Hakim Sebut Kunci Kasus Pemalsuan Surat Tanah Tanjungpermai Ada Di Oknum Satpol PP



BINTAN – Boy Syailendra, Hakim Ketua yang mengadili perkara pemalsuan surat tanah di Kelurahan Tanjungpermai, Kecamatan Seri Kuala Lobam mengatakan, kunci permasalahan perkara tersebut ada di Terdakwa Riki Putra. Demikian diungkapkan Boy saat sidang pemeriksaan terdakwa Kamis (24/2) lalu.

Saat mulai memeriksa Riki Putra, Boy juga menekankan pertanyaan apakah Riki Putra merupakan pegawai Kelurahan Tanjungpermai?, mendengar pertanyaan itu Riki menjawab jika dia bukan merupakan pegawai di Kelurahan Tanjungpermai. Diketahui, Riki merupakan ASN di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bintan.

“Nah ASN yang begini nih yang bermasalah, kerjanya dimana, tapi bikin ulahnya dimana,” tegas Boy.

Hakim Ketua juga kembali mempertanyakan Terdakwa Riki Putra membuat surat sporadik palsu. Ia juga menekankan agar Riki Putra berkata jujur meski tidak memberikan keterangan di bawah sumpah.

“Jadi coba jelaskan mengapa suratnya luasnya cuma 2 hektare, mengapa tidak diukur sampai Pohon Samak, kalau ukur sampai sana kan jelas kasus ini tak akan ada,” tanya Hakim Ketua.

Mendengar pertanyaan Hakim Ketua, melalui sambungan virtual dari Rutan Tanjungpinang. Riki menjelaskan jika dirinya melakukan pengukuran di lapangan bersama Supriati dan Sri Sugianto. Ia mengatakan jika ukuran 2 hektare merupakan keterangan dari Sri Sugianto dan batas-batas yang ditunjuk.

“Sri Sugianto yang tunjuk batas-batasnya.
Memang dia ada tunjuk ke arah Pohon Samak, tapi itu tanah belum jelas, sepertinya masuk lahan orang, jadi yang pasti saja diukur, dapatnya ya 19.375 m2 itu dengan bentuk lahan agak mengerucut tidak persegi,” jelas Riki

Riki mengatakan juga, sejak awal sebelum pengukuran pihak pemilik tanah mengatakan diperkirakan luas lahan yang dimiliki hanya 2 hektare, meski ukuran lahan di Surat Tebas tahun 1961 atas nama Haji Husin tertulis 200×200 tanpa gambar.

“Saya ukur hanya menemani petugas ukur kelurahan saja,” sambungnya.

Mendengar jawaban Riki, Hakim Ketua kembali menegaskan jika perbuatan Terdakwa Riki adalah salah dan menjadi kunci permasalahan tanah tersebut.

“Jadi kamu tahu apa kesalahan kamu?, hingga sidang sekarang ini?,”tanya Hakim.

Selanjutnya Riki menjawab dan mengakui kesalahannya. Ia mengakui jika apa yang dibuatnya salah. Menurutnya ia hanya mengukur karena permintaan dari Terdakwa Candra Gunawan dan juga Ratu Aminah Gunawan, dimana beberapa kali Candra dan Ratu Aminah yang ikut bersama turun ke lapangan untuk melakukan pengukuran lahan.

“Kalau saudara Hariadi tidak ada saat ukur mengukur lahan tersebut,” jelas Riki.

Selanjutnya, pada sidang berikutnya akan dilakukan pembacaan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. (aan)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN