Ansar: Pilkada Itu Demokrasi, Bukan Dinasti

       
        Loading...    
   

TANJUNGPINANG – Banyak hal yang disampaikan H Ansar Ahmad SE MM, anggota DPR RI H Ansar Ahmad SE MM pada saat blakblakan di Coffee Morning bersama Erdeka Group di studio 2 Tanjungpinang TV, Bintan Centre, Batu Sembilan, Tanjungpinang, Kepri, Kamis (30/7) pagi lalu. Termasuk keseriusannya untuk mewujudkan pembangunan jembatan Batam-Bintan (Babin), dan soal ‘dinasti’.

Sebenarnya, rencana pembangunan megaproyek jembatan Babin, sudah tercetus sejak 15 tahun lalu. Namun, belum terealisasi. Ansar sudah beberapa kali menyuarakan percepatan pembangunan jembatan Babin di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. Bahkan, tim dari Komisi V DPR RI sudah meninjau lokasi.

“Bagi saya, pembangunan jembatan Babin itu bukan panas-panas tahi ayam. Tapi, bagaiman kita mendorong agar jembatan Babin itu cepat terbangun. Kalau terpilih nanti, kita akan ingatkan lagi janji Presiden RI Pak Jokowi, untuk membangun jembatan Babin itu,” ujar Ansar Ahmad.

“Karena, jembatan Babin itu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Kepri. Baik dari aspek pariwisata maupun kemaritimannya,” sambungnya.

Di lain hal, Ansar mengungkapkan, potensi pariwisata dan kemaritiman di Kepri sangat besar. Tapi harus didorong dengan SDM yang berkualitas. Justru itu, Kepri mesti mendirikan sekolah-sekolah kejuruan yang memiliki korelasi dengan pariwisata dan kemaritiman itu.

“Cocoknya, anggaran pendidikan yang besar itu kita alokasikan untuk pendidikan kejuruan (SMK) mencapai 60 persen, dan 40 persennya untuk pendidikan umum,” sebut Ansar.

Sehingga, anak-anak Kepri memiliki skill dan mendapatkan peluang kerja. Pengembangan sekolah kejuruan sudah dilakukan Ansar Ahmad, ketika menjabat Bupati Bintan. Saat itu, Ansar mengembangkan sekolah pariwisata dan pendidikan tinggi Sahid Bintan Tourisme. Alhasil, banyak anak Bintan yang mendapatkan pekerjaan di perhotelan di Lagoi. Bahkan, sudah ada yang bekerja resor dan perhotelan di Dubai, dan beberapa negara asing lainnya.

“Banyak para alumni pariwisata itu datang ke rumah saya. Mereka sangat terharu, betapa besarnya manfaat setelah lulus dari sekolah pariwisata itu. Mereka ekonominya sudah mapan. Konsep ini yang mesti dikembangkan untuk Kepri ke depan,” harapnya.

“Ya, termasuk untuk beasiswa-beasiswa bagi mahasiswa di Kepri, perlu diberi perhatian. Kalau di Bintan, saya dulu bikin program satu rumah satu sarjana. Ini demi membangkitkan taraf hidup warga juga,” tambah Ansar.

Di lain hal, Ansar Ahmad juga menanggapi tentang isu yang berkembang, mengenai ‘politik dinasti’ untuk kepemimpinan kepala daerah. Bagi Ansar, dinasti itu merupakan jabatan yang diserahkan kepada keturunan. Untuk maju di Pilkada ini, merupakan sistem demokrasi.

“Kita tidak bisa paksakan orang, untuk memilih nama seseorang, seperti anak. Siapa saja, silakan memilih sesuai keinginannya. Saya rasa, banyak figur (elit politik) lain yang keluarganya ikut di Pilkada. Ini demokrasi, bukan dinasti,” ucapnya.

Jika berkaca pada kepemimpinan di zaman Rasulullah, sebut Ansar Ahmad, khalifah Abu Bakar memimpin Islam, itu adalah mertua dari Rasul. Belum lagi Ali Bin Abi Thalib, juga bagian dari keluarga Rasul.

“Para sahabat memimpin Islam ketika itu, bukan dinasti. Tapi kemampuan, kelayakan dan komitmen untuk menjadi seorang pemimpin. Kalau sekarang, pemimpin dipilih masyarakat dengan asas demokrasi. Kita tidak paksakan untuk memilihnya. Biar masyarakat yang menentukan,” demikian dijelaskan Ansar Ahmad. (fre)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN