Bukan Ratapan, H Umar Natuna Punya Semangat Membangun Pendidikan di Daerah Perbatasan

PENDIRI STAI Natuna H Umar Natuna saling menyapa dengan Datok Rida K Liamsi dalam wawancara virtual pada sekmen Hai Wai Tanjungpinang Tv, Senin (8/2).

TANJUNGPINANG – Tak banyak yang tahu. Ternyata Provinsi Kepulauan Riau memiliki perguruan tinggi, yang tak goyah dengan serba keterbatasan. Bahkan, letak perguruan tinggi berbasis Islam yang didirikan H Umar Natuna ini, berada di daerah terdepan negara RI.

Datok Rida K Liamsi pun tak putus asa. Lewat sekmen Hai Wai di Tanjungpinang Tv, tokoh yang biasa disapa RDK ini pun mengangkat ke tabir, seperti apa tantangan dan masa depan pendidikan di Natuna, sebagai daerah perbatasan RI di wilayah Provinsi Kepri. Tak bisa langsung ke studio Tanjungpinang Tv, Rida K Liamsi melakukan wawancara lewat virtual, dengan H Umar Natuna, SAg MPdI sebagai pendiri Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna.

Di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri, awalnya sangat minim sarana pendidikan dan tenaga pengajar. Pemkab Natuna mulai melakukan pembenahan. Tahun 2002, STAI pun berdiri di bawah Yayasan Abdi Umar Negara. Pendirinya antara lain H Umar Natuna dan Ngesti Suprapti, Daeng Rusnadi, serta dr Agustin. Tujuan pendirian STAI Natuna ini tak lain dan tak bukan, memberikan kesempatan kepada lulusan SLTA untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Pertimbangan bagi H Umar Natuna dalam mendirikan STAI di daerah terpencil adalah, karena masyarakat di gugusan pulau ini hidup di daerah terpencil. Tapi bukan berarti tak punya kreativitas.

       
        Loading...    
   

“STAI Natuna dibangun merupakan manipestasi keprihatinan kami. Saya sekolah MTs di Ranai, SLTA di Tanjungpinang. Kami cuma bisa keluar dari Natuna itu hanya 3 orang dari 20 orang, di letingan saya,” ungkap H Umar Natuna saat mengawali kisah pendirian STAI Natuna.

Pada masa lampau, masyarakat Natuna minim mengecap pendidikan itu, akibat keterbatasan transportasi, biaya, mental dan segala macam. Alhasil, H Umar Natuna menyelesaikan sekolah pendidikan tinggi di Semarang. Sebagai putra daerah, H Umar Natuna tak ingin lagi masyarakat kesulitan untuk mendapatkan pendidikan perguruan tinggi di Natuna.

“Saya mau kesulitan kami dulu dihadapi adik-adik saya,” ujarnya.

Ternyata, H Umar sudah berkeinginan mendirikan perguruan tinggi sejak masa kuliah di Semarang. Setelah kembali ke Natuna, H Umar Natuna bersama pendiri lainnya, mendirikan STAI Natuna, tahun 2002. Selama 19 tahun, STAI Natuna berjalan terus dan tak pernah tutup.

Dari 1 program studi (prodi), sekarang sudah ada 5 prodi di STAI. Bahkan kini, STAI dalam proses meningkatkan menjadi Institut Agama Islam Natuna. Upaya H Umar Natuna dan kawan-kawan meningkatkan status STAI itu, dengan pertimbangan jumlah penduduk, dan finansial serta dukungan dari pemerintah.

Berdiri di daerah terpencil dan berada di depan laut Cina Selatan, jangan anggap remeh terhadap STAI Natuna. Mahasiswanya justru menjadi miniatur perguruan tinggi di Provinsi Kepri. Sebab, ada yang berasal dari Pontianak, Natuna, Serasan, Midai, Pulau Laut dan Ranai. Rata-rata, menerima 300 mahasiswa per tahun.

Gedung STAI Natuna dibangun semasa jabatan Daeng Rusnadi. Meski dalam bentuk hak pakai. Kampus bisa menampung 3.000-an mahasiswa. Sekarang ini sedang belajar 1.300-an mahasiswa. Sekolah berada di kaki Gunung Ranai dekat Islamic Center.

“Untuk membangun daerah terpencil agar bisa menjadi suatu daerah maju, bangun pendidikan dulu. Untuk mengubah mindset atau pola pikir masyarakatnya. Baru ekonomi sosial, dan budaya serta bidang lainnya,” tutur H Umar.

Hingga saat ini, alumni STAI Natuna itu mencapai 1.300-an orang, yang tersebar di beberapa sektor. Ada yang bekerja sebagai pegawai di Pemkab Natuna, menjadi guru maupun PNS. Bahkan, ada yang mendirikan sekolah. Alumni STAI Natuna berguna bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Sedankan jumlah dosen sebanyak 60 orang. Terdiri dari 35 dosen tetap dan 15 tidak tetap. Dari 60 orang dosen itu, 80 persen merupakan anak-anak dari Natuna. Bahkan pihak yayasan merekrut lulusan dari daerah, untuk mengabdi di STAI Natuna.

Dosen di STAI Natuna ada yang berasal dari Jepara, Semarang dan beberapa daerah lain. Tatkala mereka direkrut, diberikan fasilitas saat mengabdi di Natuna. Kemudian, manajemen STAI Natuna memberikan beasiswa kepada putra putri tempatan, untuk melanjutkan pendidikan S2. Agar menjadi dosen yang semakin berkualitas di masa mendatang.

Tak hanya dari kampus, SKK Migas juga pernah membantu, untuk memberikan beasiswa bagi dosen yang melanjutkan pendidikan S2. Demi penguatan kualitas dosen. Sedangkan akademik dan kurikulum di STAI sudah berjalan sesuai standar pendidikan, serta sesuai dengan ketentuannya.

“Selama itu kami lakukan, hanya untuk menyiapkan fondasinya. Kini, kualitas pendidikan di STAI Natuna dijamin,” tegas H Umar Natuna.

STAI Natuna merupakan pendidikan tinggi yang berbasis ilmu agama Islam. Prodi di kampus ini antara lain Pendidikan Islam, Ekonomi Islam, Hukum Islam, Komunikasi Penyiaran Islam, serta Pendidikan Anak Usia Dini. Ke depan, akan dikembangkan Ekonomi Syariah.

Walaupun Prodi itu berbasis agama, tapi ada tambahan prodi, yaiti kompetensi. Justru itu, dosen yang direkrut itu memiliki kompetensi entrepreneurship (usaha), agama dan keagamaan berbasis temadun Melayu, dan kompetensi terkait kemampuan baca tulis Alquran. Ini di luar akademik. Sehingga, di kampus STAI Natuna disediakan labor untuk pengembangan usaha tersebut.

Melalui kompetensi tambahan itu, mahasiswa diajarkan berusaha. Seperti pengolahan hasil ikan melalui ekstrakurikuler. Karena, Natuna merupakan daerah maritim.

Untuk pengembangan lebih ‘berkelas’, STAI Natuna bersama perguruan tinggi lainnya di Kepri, seperti UMRAH ingin membentuk pendampingan dan vokasi pendidikan. Tapi, project kerja sama dengan perguruan tinggi lainnya itu belum terwujud.

“Ini PR dan tantangan kami ke depan. Bagaimana membangunan ekonomi dalam mewujudkan Natun, sebagai pusat kawasan maritim Indonesia,” tuturnya.

Gagasan ke depan, meningkatkan pendidikan di daerah perbatasan antarnegara, ada rencana membangun Politeknik dan beberapa universitas lainnya. Tapi, belum ada realisasinya. Karena, membangun universitas itu perlu pengabdian dan lainnya. Tak cukup makan ikan atau hanya menikmati pariwisata di Natuna saja.

Justru itu, untuk menghadapi tantangan pendidikan di Natuna ke depan, H Umar Natuna berpendapat, yang perlu diperhatikan pemerintah itu, pertama pembangunan SDM. Sekaligus bagaimana mengembangkan SDM itu.

“Seperti pengajar di STAI ini, ya sudah mesti ada dosen yang menyandang doktor,” saran H Umar Natuna.

Kedua, bagi H Umar Natuna, pemerintah harus menyadari, bahwa Natuna sebagai daerah perbatasan dan strategis, harus ada perubahan status pemerintahan. Ada kesetaraan pimpinan instansi vertikal dengan pemerintah daerah.

“Bisa saja Natuna menjadi provinsi, atau daerah khusus,” ujarnya.

Membangun Natuna di perbatasan laut Cina Selatan, apa pun itu bentuknya, SDM harus dipersiapkan menjadi yang unggul. Natuna mesti menjadi daerah yang berbeda.

“Membangun STAI selama 19 tahun ini, penuh air mata dan ketawa. Natuna tidak hanya diperhatikan di bidang keamanan. Tapi SDM dan ekonomi masyarakat perlu diperhatikan,” harap H Umar Natuna.

Tahun 2025, menjadi target bagi STAI Natuna menjadi Institut Agama Islam Natuna. STAI belum mengarah kepada universitas negeri.

“Kalau pemerintah mau, sebenarnya bisa saja menjadi negeri. Tinggal pengalihan aset saja. STAI Natuna berbeda dibandingkan STAIN Abdurrahman di Tanjungpinang, yang memang dirancang sejak awal menjadi perguruan tinggi Islam negeri,” tambahnya.

Sekarang, H Umar Natuna dan kawan-kawan pendiri, sedang membangun fondasi yang kuat. Sehingga, warisan ini akan kuat ke depannya. Pewaris nilai-nilai pendidikan STAI Natuna ke depan, diharapkan tidak goyah.

“Karena dalam perspektif perjuangan pembangunan, ada beberapa kelompok orang. Ada kelompok perintis, pelanjut, penikmat dan perusak. Nah, sekarang harus kita bangun fondasi yang kokoh, biar kuat ke depannya,” tuturnya.

H Umar Natuna berharap, ada kelompok pelanjut yang siap menghadapi tantangan ke depan. Perguruan tinggi tertua di Natuna ini berawal dari STAI, diwujudkan menjadi institut dan bukan hal yang mustahil bisa menjadi Universitas Islam Negeri Natuna, pada masa mendatang.

“Maka sekarang, kita bertungkus lumus dan berdarah-darah untuk mencapi cita-cita itu,” ucapnya.

Pengembangan pendidikan di daerah perbatasan negara, di Natuna, bagi H Umar Natuna tak ingin putus asa. Untuk menjadikan pendidikan Natuna menjadi model pembangunan manusia berkualitas di masa mendatang, tantangan apa pun akan dihadapi. Bukan suara ratapan, tapi suara semangat yang dikumandangkan H Umar. (yusfreyendi)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN