Kalau Ada Pejabat Datang, Keluhannya Cuma Listrik, Listrik dan Listrik

Wito saat menunjukan lampu pelita yang digunakan sehari-hari, Kamis (8/4).

BINTAN – Kampung Wono Asri mungkin belum begitu familiar di telinga masyarakat Bintan maupun para pejabat, namun kedatangan pejabat selalu dinantikan masyarakat untuk mengeluhkan kondisi listrik di wilayah tersebut yang hingga kini belum ada solusi.

Wono Asri merupakan kampung yang berada di Desa Sebong Pereh, Kecamatan Teluksebong. Letaknya di Jalan Sei Tongkang yang diakses melalui Jalan Lama Tanjunguban-Tanjungpinang.

Tiap hari jalan lama itu masih dipergunakan untuk lalu lintas kendaraan dari Lagoi dan sekitarnya menuju Tanjunguban. Bahkan di kampung tersebut juga sudah ada pembangunan jalan aspal serta jalan tanah yang lebar dan sudah dipadatkan.

Saat masuk kampung itu, tampak juga tiang listrik Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) yang merupakan jalur listrik Batam, Bintan dan Tanjungpinang. Namun dari tiang menjulang tinggi itu tidak “mencipratkan” listriknya di kampung yang dilalui. Beda dengan Pulau Ngenang yang mendapatkan listrik 24 jam usai wilayah itu dilalui tiang SUTT listrik Batam Bintan.

Baca Juga :  Ayo Ikuti Seminar Internasional Jejak Sejarah Hang Tuah
       
        Loading...    
   

Warga di kampung itu, pernah menikmati pasokan listrik desa pada tahun 2013 lalu. Warga mendapatkan pasokan listrik dari sore hingga malam hari. Namun kini listrik tersebut sudah tidak ada semenjak kewenangan ESDM yang semula di Kabupaten, sejak tahun 2015 dialihkan ke Provinsi.

Sontak, Wono Asri yang sebelumnya terang kini menjadi gelap kembali, apalagi kini menjelang suasana Ramadan yang akan datang beberapa hari lagi.

Seperti yang dirasakan oleh Wito (48), dalah seorang warga yang menetap di kampung tersebut sejak Tahun 2004 lalu. Wito yang kini sudah memiliki 3 orang anak dan seorang istri ini merasakan masalah listrik yang belum menerangi rumahnya.

Bahkan terlihat, peralatan listrik seperti televisi, radio tape dan lainnya kini tidak dipergunakan selayak fungsinya. Kini ia hanya bertumpu kepada mesin generator listrik yang hanya dihidupkan selama 1 jam setiap harinya untuk mengisi kebutuhan air dan sekedar mengecas lampu dan handphone.

Baca Juga :  Pasien Positif Covid-19 Tinggal Lima yang Dirawat

Sehari-hari, kini listrik hanya hidup 1 jam, hal itu karena kebutuhan solar yang tinggi jika harus hidup lebih lama. Setiap harinya ia harus membeli 1,5 liter solar untuk menghidupkan mesin generator listrik. Sisanya ia mengandalkan lampu pelita (minyak) untuk penerangan hingga malam dan pagi hari.

“Ya itu lah mas, soal listrik memang masih menjadi impia kami. Setiap ada yang datang kesini, pejabat atau pemangku kepentingan, ya kami selalu adukan soal listrik, listrik dan listrik. Namun ya begitu lah, belum ada hasilnya,” sebutnya, Kamis (8/4).

Ia mengatakan, permasalahan listrik di kampungnya kerap dibenturkan dengan status lahan yang masuk dalam kawasan hutan lindung. Padahal hutan lindung itu ditetapkan tahun 2015 lalu dan beberapa kawasan lain di Bintan yang jelas-jelas hutan lindung malah ada tiang listriknya dan jaringan serta arusnya.

Baca Juga :  Warga Diminta Tidak ke Tempat Wisata

“Kalau kami ngomong ya gitu mas, rakyat kecil sampai mana sih suaranya. Disini ada 18 KK yang menetap, kami salah satunya,” ucapnya.

Ia mengatakan, seharusnya pemerintah dapat mencarikan solusi listrik bagi kehidupan masyarakat. Jika tidak ada jaringan listrik mungkin masyarakat dapat diberi bantuan listrik tenaga surya yang mungkin lebih memungkinkan dalam jangka pendek ini.

“Kalau kami lihat di jalan yang dibangun pemerintah lampu tenaga suryanya bagus-bagus dan banyak. Kalau di kampung kami ada seperti itu mungkin akan terasa lebih baik dibandingkan gelap gulita,” ujarnya.

Ia menyampaikan lagi, pihaknya ingin lepas dari nama Wono Asri yang dalam bahasa Jawa artinya hutan yang hijau. Sementara di lapangan faktanya sudah banyak pemukiman.

“Listrik masih impian kami mas. Karena itu kebutuhan paling dasar,” harap pria yang bekerja sebagai petani dan serabutan ini. (aan)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN