Makam Hang Nadim Diyakini di Roco-Busung

Ridak K Liamsi dan Nuri Che usai berbincang di acara Hai Wai di Studio 2, Tanjungpinang TV di Komplek Bintan Center Batu 9, Senin (9/11).

BINTAN – Hang Nadim merupakan salah satu laksamana terbesar dalam sejarah Kerajaan Riau-Lingga hingga Johor berdiri selama 800 tahun lebih.

Nama laksamana yang sangat ahli perang di laut ini sangat besar hingga dunia internasional.

Namun, riwayat perjalanan terakhir, hingga akhir hayat serta makamnya, itulah yang ‘kabur’ selama ini.

Padahal, puluhan tahun nama besarnya sudah dipakai. Misalnya, Bandara Internasional Hang Nadim Batam dan masih banyak lagi.

       
        Loading...    
   

Informasi terbaru, pekan lalu, ternyata makam Hang Nadim diyakini di pedalaman dekat Desa Busung, Bintan, Provinsi Kepri.

Begitu lama pahlawan perang ini berjuang, begitu besar namanya, namun baru kali inilah makamnya baru diketahui dan dipastikan sejumlah sejarawan dan cerita turun-temurun.

Ya, lokasinya di Sungai Anak Roco, berbatasan dengan Busung dan masuk ke dalam. Jika tidak ada pemandunya, akan kesulitan masuk ke dalam.

Nuri Che Shiddig, Pegiat Sejarah dan Budayawan asal Tanjungpinang membeberkannya di Acara Hai Wai! Satu Jam Bersama Dato’ Rida K Liamsi di Studio 2 Tanjungpinang TV di Komplek Bintan Center Batu 9, Senin (9/11) dengan tema ‘Benarkah Makam Hang Nadim di Busung?

”Nama kampung ini aslinya Sungai Anak Roco. Namun, nama itu seakan hilang. Orang tahunya Busung. Padahal, lokasi makam itu di Sungai Anak Roco,” jelasnya.

Ia baru mengetahuinya pekan yang lalu. Mereka sudah dua kali ke sana. Sekaligus untuk menggelar doa selamatan dan tolak bala.

Jumat (6/11) lalu, mereka ke sana lagi untuk melakukan dokumentasi mengambil foto-foto lokasi, foto makam dari berbagai sisi.

Memang, namanya benda yang sudah cukup lama seperti itu pasti ada perbedaan pendapat.

Apalagi sebelumnya, sudah diyakini makam tua tak jauh dari Jembatan Busung adalah Makam Laksamana Hang Nadim.

Namun, ada beberapa hal yang membuat Nuri Che dan sejarawan lainnya sangat yakin bahwa itu adalah Makam Hang Nadim yang perkasa itu.

Pertama, Syamsul (82 tahun), pria yang lahir di tempat itu dan besar di sana hingga masa tuanya saat ini sudah tahu bahwa itu Makam Hang Nadim.

Dan dia bukan mengarang cerita itu. Namun, Syamsul dapat cerita itu turun temurun. Sehingga, kebenarannya lebih diyakini.

Kedua, Syamsul sejak awal bertemu dengan Nuri Che langsung memberi tahu baru makam yang di dekat Jembatan Busung itu bukanlah makam Hang Nadim.

Namun, makam Hang Nadim ada di belakang rumahnya. Sekitar 50 meter dari rumahnya. Lalu Syamsul pun membawa Nuri Che ke makam itu.

”Memang, ada yang istimewa dengan makam itu. Bukan makam orang sembarangan. Pas saya buka kain kuning, ukiran di nisan itu sangat istimewa. Bentuk teratai. Ini pasti makam orang-orang penting dari Kerajaan Kesultanan Melayu dulu,” katanya.

Masih dari cerita Syamsul, nama asli kampung itu adalah Sungai Anak Roco. Kemudian Nuri Che mencocokkannya dengan buku sejarah Melayu Sulalatus Salatin karya Tun Sri Lanang.

Kata dia, Hang Nadim memang disebutkan berangkat dari Roco saat akan berperang melawan Portugis. Temannya sejarawan juga mengiakannya.

Kabar ini pun sudah sampai juga ke Malaysia. Salah satu pegiat sejarah dari Malaysia ingin turun ke sana. Ingin melihatnya dan ingin mengambil sampel tanah.

Pegiat sejarah Malaysia itu ingin melakukan pencarian sejarah dengan cara-cara modern. Namun, karena pandemi Covid-19 ini, belum jadi datang ke makam itu.

Faktor lain yang meyakinkan Nuri Che bahwa itu adalah makam Hang Nadim adalah, warga setempat menemukan satu kapal di sana.

Kapal bekas perang yang digunakan Hang Nadim dan pasukannya melawan Portugis. Di kampung itulah diyakini sebagai tempat perbaikan kapal dan pembuatan kapal perang.

Ia menjelaskan, penemu pertama makam itu di luar masyarakat setempat adalah bukan dirinya dan teman-temannya.

Namun, tahun 1982 lalu, Tim dari Lipi dan pihak Dinas Kebudayaan daerah sudah melakukan penelitian ke tempat itu.

Bahkan, mereka sudah yakin itu makam Hang Nadim. Namun, karena tidak diekspos, sehingga tak banyak masyarakat yang tahu ada akhirnya sejarah itu tinggal begitu saja.

Sebenarnya, pemerintah daerah juga yang terkesan cuek. Sudah tahu Hang Nadim itu orang besar, sangat terkenal dan berjasa, namun temuan itu tidak ditindak lanjuti.

10 tahun lalu, salah seorang perempuan dari Malaysia datang ke Bintan dan melihat makam yang ada di bawah Jembatan Busung. Orang Malaysia itu yakin, makam itu tempat Hang Nadim disemayamkan.

Pekan lalu, ada beberapa orang kawan-kawan Nuri Che yang bercerita tentang makam tua di pedalaman Busung.

Nuri yang memang sangat melekat dengan benda-benda peninggalan purbakala kerajaan kesultanan Melayu itu langsung terpikat ingin mengetahuinya.

”Lokasi makam pertama itu, tidak persis di Busung. Perbatasan ia. Tapi bukan itu makamnya. Untuk memastikannya, saya jumpai warga asli di sana,” kisahnya.

Setelah masuk ke dalam Kampung Sungai Anak Roco, saat itulah dia bertemu Syamsul.

”Anaknya pun masih ada di sana. Sudah tua. Ibaratnya sesepuhlah di sana. Dia warga biasa saja. Cakapnya masih jelas. Masih sehat orangtua itu,” katanya penuh serius.

Setelah bertemu Syamsul, Nuri Che bertanya tentang makam yang di bawah Jembatan Busung itu. Lalu Syamsul pun menceritakan semuanya.

”Jumat lalu kita sudah ke sana bersama kawan-kawan. Sudah kita pasang plang nama di sana. Jadi, siapapun yang datang ziarah ke sana, sudah tahu itulah makam Laksamana Hang Nadim,” tegasnya.

”Waktu Pak Syamsul bilang itu daerah Roco, saya langsung telpon Adam Malik (sejarawan Kepri). Saya tanya, apa betul Roco itu tempat Hang Nadim dulu,” katanya lagi.

Nuri juga mengatakan, meski dirinya tidak kuliah dalam bidang sejarah ini, namun karena dirinya putra asli Melayu yang lahir dan besar di Tanjungpinang, dia sangat peduli dengan hal-hal seperti ini.

”Jika kita yang asli Melayu tak peduli lagi dengan seperti ini, tinggal namalah nanti. Sejarah kita akan hilang,” katanya.

Memang, dirinya lahir dan dibesarkan di Tanjungunggat. Sehingga, saat masih kecil, dirinya kerap bermain ke Sungai Carang, Sungai Timu, Kota Rebah, Penyengat dan daerah bersejarah lainnya di Tanjungpinang.

Sejak kecil, dirinya sudah mendengar cerita-cerita tentang kerajaan Melayu yang ada mulai dari Bintan, Tanjungpinang, Temasek (Singapura), Johor, Pahang, Malaka hingga Lingga.

Termasuk mendengar cerita-cerita mistis, melihat makam-makam kerajaan dulu maupun benda peninggalan Kerajaan Riau-Lingga di beberapa tempat.

Setelah dirinya besar, cerita-cerita masa kecil yang disampaikan kakek neneknya dulu hampir sama dengan buku-buku yang diterbitkan di abad modern ini.

Artinya, sejarah yang ditulis itu sangat mendekati kenyataan yang terjadi ratusan tahun silam. Dan bukti-bukti sejarahnya masih ada berupa makam, bekas istana, bekas kantor, bekas senjata dan lainnya.

Sehingga, saking seringnya mendengar cerita-cerita orang-orang hebat Melayu dan Bugis di masa kejayaan kesultanan kerajaan Melayu dulu, dirinya kini sangat tertarik untuk menelusuri hal-hal seperti Makam Hang Nadim tersebut.

Jika saja makam itu tidak dihuni lagi, maka lama kelamaan makam itu akan hilang. Sehingga, bisa saja nanti entah makam siapa yang dipercaya menjadi Makam Hang Nadim.

Nuri mengatakan, jika masih ada tempat-tempat yang harus dicari dan dijalani untuk mencari situs sejarah lainnya, maka itu akan dia lakukan dan teman-temannya.

Dia juga meminta pemerintah daerah jangan mengabaikan sejarah besar kerajaan kesultanan Melayu Riau-Lingga dulu.

Meski kini sudah melebur menjadi NKRI, namun sejarah itu harus dijaga, harus dilengkapi, situs-situs harus dirawat dan diamankan.

Jangan sampai seperti kejadian saat Tanjungpinang dan Bintan dijadikan pusat eksploitasi bijih bauksit beberapa tahun lalu, banyak makam-makam jadi korban.

Padahal, saat itu, banyak perusahaan ilegal yang melakukan penggalian bauksit, sehingga asal meratakan saja. Jika tak cepat, salah satu makam orang-orang kerajaan dulu akan rata dengan tanah dan hilang.

Jika dipikir-pikir, dirinya malah mengeluarkan uang dan menghabiskan waktu untuk mencari-cari dan mengurusi benda-benda bersejarah seperti itu, namun masih terus dikerjakannya.

Ia mengatakan, semua itu dilakukannya karena dia peduli dengan sejarah besar Melayu ini. Sejarah kesultanan kerajaan Melayu yang diakui dunia.

Laksamana Hang Nadim adalah anak kandung Hang Jebat dengan isterinya Dang Wangi ataupun Dang Inangsih.

Hang Nadim adalah pahlawan Melayu Johor-Riau semasa penjajahan Portugis di Melaka.

Perjuangannya sudah dimulai sejak tahun 1513 dan Hang Nadim menjadi Laksamana untuk waktu yang lama hingga pergantian beberapa kali Sultan di Kerajaan Melayu dulu.

Kesultanan Kerajaan Melayu dulu sangat luas. Kini mencakup tiga negara yakni Kepri (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sejumlah daerah di Malaysia.

Laksamana Hang Nadim dikaruniakan dengan umur yang panjang. Selepas Sultan Mahmud Shah mangkat pada tahun 1528, beliau berkhidmat dengan putera baginda Raja Ali yang bergelar Sultan Alauddin Riayat Syah II hingga tahun 1564.

Laksamana Hang Nadim terus berkhidmat dengan Sultan Muzaffar Shah II (1564 -1570), Sultan Abdul Jalil Shah I (1570 -1571), dan Sultan Ali Jalla (1571-1597).
Laksamana Hang Nadim menjadikan Johor sebagai pusat gerakannya menyerang Portugis di Melaka.

Walaupun Laksamana Hang Nadim gagal menghalau Portugis dari Melaka, namun benih perjuangan yang disemainya itu terus tumbuh dalam kalangan orang Melayu.

Bertitik tolak dari perjuangan Laksamana Hang Nadim itu, pahlawan-pahlawan Melayu terus bangkit berjuang menentang penjajah.

Hang Nadim dalam akhir hidupnya berada di Bintan. Dan makamnya diyakini ada di kampung Sungai Anak Roco, perbatasan dengan Busung Bintan. (mas)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN