Oknum Satpol PP Bintan Jadi Tukang Ukur Dan Ketik Surat Tanah Dalam Kejahatan Pertanahan



BINTAN – Peran oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bintan, Riki Putra dalam kejahatan pertanahan di Kelurahan Tanjungpermai, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Bintan terungkap. Yang bersangkutan yang kini sebagai terdakwa dalam Perkara Pidana Pemalsuan Surat Nomor 410/Pid.B/2021/PN Tanjungpinang disebut sebagai tukang ukur dan juga mengetik surat tanah dalam kasus tersebut.

Demikian disebutkan oleh sejumlah saksi dan juga berdasarkan Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang telah dibacakan pada Kamis (6/1) lalu. Pada Selasa (11/1) dihadirkan 4 saksi dalam sidang kedua yang merupakan pemeriksaan saksi.

Empat saksi yang dihadirkan yakni Supriati, Sri Sugianto, Endang Isnarningsih dan Notaris Ratu Aminah. Ke empat orang saksi ini memberikan kesaksian untuk Riki Putra dan Candra Gunawan yang didakwa dalam satu berkas perkara yang sama.

Dari kesaksian Supriati dan Sri Sugianto yang merupakan pemilik tanah dari ahli waris Fatimah menjelaskan, jika pada tahun 2016 lalu pihak berniat menjual tanah yang terletak di Jalan Indunsuri depan Diler Yamaha, Kelurahan Tanjungpermai, Kecamatan Seri Kuala Lobam.

Saat itu, Riki Putra yang hadir bersama seorang staf Kelurahan Tanjungpermai dan Candra Gunawan melakukan pengukuran bersama Sri Sugianto yang merupakan suami Supriati.

“Saat itu kami tahunya Riki itu orang kelurahan. Dia bersama staf dan suami melakukan pengukuran lahan, Candra Gunawan saat itu hanya memantau saja, sementara saya dan notaris Ratu Aminah Gunawan tunggu di pondok samping Diler Yamaha,” kata Supriati saat ditanya Jaksa Penuntut Umum dan juga Majelis Hakim dalam sidang di Ruang Tirta, Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (11/1).

Sementara itu, Notaris Ratu Aminah Gunawan yang merupakan tersangka terkait permasalahan lahan tersebut juga memberikan keterangan untuk kedua terdakwa Riki Putra dan Candra Gunawan. Ratu Aminah juga membenarkan jika Riki dan Candra merupakan pihak yang mengurus surat tanah sporadik yang awalnya ada satu surat seluas 19,375 M2, menjadi 4 surat dengan 3 surat lagi dikeluarkan tanpa sepengetahuan Fatimah atau kuasanya Supriati.

“Yang saya tahu juga Riki merupakan orang kelurahan, sehingga pengurusannya sporadik beliau dan Candra yang urus,” kata Ratu.

Dalam perkara ini, awalnya Riki Putra bersama staf kelurahan menghitung luas lahan dalam perkara tersebut seluas 2,6 hektare. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan meteran tali. Namun ketika disampaikan kepada Fatimah dan Supriati, luas tanah menjadi sekitar 2 hektare (19.375 M2). Ukuran tersebut dikarenakan pada ukuran kedua menggunakan alat GPS yang dianggap lebih valid.

Akibatnya, pemilik tanah (Fatimah dan Supriati) merasa dirugikan. Terkini mereka mengetahui luas lahan yang dikeluarkan surat sebanyak 4 sporadik yang bersumber dari Fatimah atau Surat Tebas Haji Husin, seluas 3,2 hektare. (aan)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN