Pedagang Karimun Mengeluh karena Pembeli Ikan Asin

Dua pedagang ikan di Pasar Puan Maimun menunggu pembeli, sudah 2 tahun terahir ini kondisi daya beli turun.
       
        Loading...    
   

KARIMUN – Daya beli warga di pasar rakyat semakin turun. Akibatnya, perputaran uang atau perekonomian di kalangan pedagang dan masyarakat kecil di Karimun semakin lambat. Apalagi di Pasar Puan Maimun, pembeli ikan asing nyaris tak ada.

“Dalam 2 tahun terahir ini daya beli terus menurun. Terkhusus di pasar Puan Maimun (Karimun) ini. Karena pasar ini tempat belanja atau pusat perdagangan dari ekonomi mampu sampai tidak mampu,” kata Fiq seorang pedagang ikan asin di Pasar Puan Maimun, Karimun, Minggu (18/10).

Baca Juga :  Jumat-Minggu, KPU Bintan Kembali Membuka Pendaftaran Paslon

Penurunan daya beli semakin parah, dengan pemberlakuan larangan bagi warga Negara Malaysia dan Singapura ke Karimun. Selama ini, pengunjung asal kedua negara ini menjadi harapan pedagang sebagai pembeli. Pengunjung asal kedua negara tersebut, selalu membeli ikan asin (kering) dalam jumlah besar.

“Minimal membeli 5 kilogram setiap belanja, ini membuat kami bisa cepat memutar modal kembali dengan cepat. Itu dulu. Saat ini sangat sulit, untuk menjual habis ikan kering 10 kilogram dalam 1 minggu aja, sulit. Kondisi ini bisa membaik, jika warga kedua negara kembali masuk Karimun sebagaimana biasanya,” ujarnya.

Baca Juga :  Kepala BPKAD Tanjungpinang Dikabarkan Undur Diri

Pasar hanya terlihat ramai pengunjung pada hari Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. Selain hari tersebut, pasar terlihat sepi pembeli atau dapat dikatakan pedagang lebih banyak dari pada pembeli.

Hal serupa disampaikan Ujang, pedagang daging sapi segar. Menurutnya, untuk menghabiskan 1 ekor daging sapi, saat ini memerlukan waktu sampai 3 minggu.

“Kami harus terus jualan, meskipun kondisi daya beli sedang menurun. Meskipun demikian, ia menjamin bahwa kualitas daging yang mereka jual masih layak kosumsi” terang dia.

Harga daging sapi segar per kilogram saat ini, dijual Rp160 ribu. Pada hari besar bisa naik sampai Rp180 ribu per kilogram.

Baca Juga :  9 Kader Golkar Bertarung di Pilgub, di Kepri Ada Ansar Ahmad

Beberapa faktor membuat daya beli menurun, rendahnya kunjungan dari luar ke Karimun. Itu berdampak pada beberapa sektor, seperti rumah makan, penginapan, sopir taxi dan ojek serta lainnya. Termasuk lapangan kerja, saat ini, belum normal. Beberapa kegiatan pembangunan batal dilaksanakan.

“Semoga ke depan, kondisi ekonomi semakin membaik dan membuat daya beli kembali seperti sedia kala,” harapnya. (yon)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN