Kasus Mafia Tanah Tanjungpermai, Staf Kelurahan Ngaku Diperintah Pak Lurah



BINTAN – Kasus mafia tanah atau kejahatan pertanahan di Kelurahan Tanjungpermai, Kecamatan Seri Kuala Lobam yang kini sedang dalam tahap persidangan untuk tersangka Riki Putra dan Candra Gunawan serta Hariadi, terus memunculkan fakta-fakta baru.

Terakhir pada sidang Selasa (18/1) kemarin di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, dihadirkan 3 orang saksi dalam sidang kedua pemeriksaan saksi.

Ketiga saksi yang dihadirkan yaitu Legiono selaku Ketua RW 03 dan Sarjuno selaku Ketua RT 04 Kelurahan Tanjungpermai. Kemudian Fuat Susanto selaku staf juru ukur di Kelurahan Tanjungpermai.

Kepada Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Legiono selaku Ketua RW 03 membenarkan jika dirinya menandatangani beberapa surat tanah yang menjadi objek permasalahan dalam kasus tersebut. Namun ia tidak mengetahui pihak-pihak yang berkepentingan dalam surat tersebut selain pihak kelurahan.

“Saya hanya diberikan blanko sporadik yang sudah ditandatangani para pihak dan saya ikut menandatangani. Soal Riki Putra dan Candra Gunawan serta Hariadi selaku terdakwa saya tidak kenal,” jawabnya.

Jawaban yang sama juga disampaikan oleh Sarjuno selaku ketua RT 04. Kepada majelis hakim juga dia hanya menandatangani sporadik hanya untuk memberikan kemudahan dalam pelayanan saja. Namun ia mengaku memang tidak turun ke lokasi.

“Kami mempermudah saja kalau sudah lengkap berkas. Kadang juga saya ke kantor lurah jika dibutuhkan untuk tandatangan maupun cap surat,” jelasnya.

Sementara itu, Fuat Susanto, staf juru ukur mengatakan jika pihaknya diperintahkan lurah saat awal pengukuran lahan. Ia bersama Riki Putra, Supriati dan Sugianto (suami Supriati) turun langsung mengukur ke lapangan.

Saat Majelis Hakim mempertanyakan luas lahan tersebut, Fuat mengaku telah mengukur lahan dengan panjang empat sisi sepanjang 200 meter, kemudian sisi kedua 200, sisi ketiga dan keempat masing-masing sepanjang 190, sehingga luas lahan diperkirakan 3,8 hektare.

“Saya ukur berdasarkan Surat Tebas 200×200 itu. Dapatnya sekitar 3,8 hektare,” jawabnya.

Mendengarkan jawaban saksi, Ketua Majelis Hakim langsung bertanya dengan nada tegas. Hal ini karena berdasarkan keterangan saksi sebelumnya luas tanah yang diukur adalah 2,6 hektare versi menggunakan meteran dan 1,9 hektare versi menggunakan GPS.

“Saya hanya mengukur segitu pak, soal luas di surat dan gambarnya saya tidak tahu, bukan saya yang buat. Saya hanya teken saja saat diperintahkan Pak Lurah,” jawab Fuat

Mendengar jawaban saksi Fuat, Majelis Hakim menjadi bingung dan heran mengenai siapa yang membuat, mengetik dan menggambar bentuk lahan tersebut. Ia pun meminta saksi Fuat untuk jujur dan membuka kebenaran dalam sidang.

Setelah mendengar tanggapan Majelis Hakim, saksi Fuat kembali menegaskan jika pihaknya hanya diperintahkan Pak Lurah.

Saat Hakim bertanya kepada saksi Fuat Susanto apakah mengenal Terdakwa Riki Putra, saksi menjawab mengenal Riki Putra sejak tahun 2010 lalu dimana terdakwa Riki Putra saat itu bekerja di Kantor Lurah Tanjunguban Timur dan kini yang bersangkutan merupakan ASN di Satpol PP Bintan.

Kemudian saat ditanya mengenal Terdakwa Candra Gunawan, saksi Fuat mengaku tidak mengenal. Begitu juga terhadap terdakwa Hariadi, saksi Fuat mengaku tidak mengenal apalagi terkait pengurusan surat tanah dalam kasus tersebut. (aan)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN