350 Janda Bertambah di Pulau Bintan

       
        Loading...    
   

TANJUNGPINANG – Beragam persoalan membuat 475 pasangan suami istri harus bercerai. Dari perkara sebanyak itu, 350 istri yang memilih jadi janda dan menggugat cerai suaminya.

Data ini dirangkum dari Pengadilan Agama Tanjungpinang. Perkara gugatan cerai ini dari Tanjungpinang dan Bintan periode Januari-Juli 2020.

Ketua Pengadilan Agama Tanjungpinang, Muhammad Yusar mengatakan, dari total perkara yang ada itu, 350 merupakan perkara gugatan cerai yang diajukan istri kepada suaminya.

Sedangkan sisanya kisaran 125 perkara merupakan talak yang diajukan suami kepada istrinya.

”Ini perkara yang masuk pada Jumat kemarin. 70 persen didominasi dari istri yang mengajukan cerai. Sedangkan 30 persen suami yang mengajukan perceraian,” ujarnya kepada Tanjungpinnag Pos, Senin (20/7).

Kata dia, untuk Juli 2020 sudah tercatat 80 pasangan suami istri yang mengajukan perceraian ke Pengadialan Agama. ”Ini sudah termasuk sedikit. Biasanya sampai 100 lebih setiap bulannya,” pungkasnya.

Sementara itu dari jumlah perkara perceraian yang diterima Pengadilan Agama, sebanyak 451 perkara berhasil dituntaskan atau diputus.

Kata dia, jumlah tersebut sudah termasuk sisa perkara perceraian tahun 2019 berjumlah 83 perkara.

Menurutnya, gugutan cerai yang diajukan oleh istri disebabkan tidak adanya tanggung jawab seorang suami kepada angggota keluarga.

Untuk itu, sangat jarang perempuan atau istri mengajukan cerai dengan satu perkara masalah. Kebanyakan, mereka menggugat sang suami dengan beberapa perkara sekaligus seperti perkara ekonomi, perselingkuhan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Mirisnya lagi, kasus perceraian yang terjadi tidak hanya dilakukan pasangan suami istri dengan usia pernikahan cukup lama hingga 25 tahun usia pernikahan. Tetapi juga terdapat perkara perceraian dengan usia pernikahan satu tahun.

”Ada yang nikah Mei 2019. Nah, sekarang sudah ngajukan perceraian. Ini sudah jelas bahwa tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga mereka,” jelas Muhammad Yusar.

Hingga kini, kasus perceraian tidak hanya terjadi di kalangan masyarat biasa. Namun, Pengadilan Agama juga mengurusi kasus perceraian yang ajukan kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kata dia, berdasarkan Undang-undang apabila suami istri sudah bercerai sementara anaknya masih di bawah umur, maka yang mendapatkan hak asuh anak adalah ibunya kecuali sang ibu bermasalah.

Apabila anak tersebut sudah cukup umur maka anak diberi pilihan untuk mengikuti ibu atau ayahnya.

Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar menghindari terjadi perceraian dalam rumah tangga.

”Nikah itu ibadah, jalani pernikahan dengan ibadah. Jika bercerai kasihan anak-anak. Pikirkan juga kondisi anak-anaknya jika cerai,” jelasnya.

Penyebab perceraian di kalangan PNS rata-rata disebabkan oleh kasus moral. Yaitu perselingkuhan dan ketidakpuasan dalam hubungan suami istri. (cr29)

==

       
        Loading...    
   
BAGIKAN