Nyala Sastra di Ujung Utara Indonesia

Komunitas Natunasastra di Ranai Natuna. (F: Dok. Natunasastra)

Beribu kilometer dari istana negara, kantor gubernur, dan Gramedia, tidak lantas memadamkan api minat baca di kabupaten Natuna. Bahkan, di ujung utara Indonesia ini, minat anak mudanya terhadap sastra justru menyala-nyala. Bagaimana bisa?

Oleh Fatih Muftihluarbiasa.id

DARI lebih 25 peserta bengkel menulis cerpen untuk pelajar yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau pada tahun lalu, hanya Azka Nahya Amanta yang berasal dari kabupaten Natuna. Selama tujuh hari gelaran pelatihan itu, dia tidak pernah absen. “Azka termasuk yang paling aktif, lho,” kata Tasliati, panitia bengkel menulis.

Biasanya, bengkel-bengkel kreatif semacam ini diselenggarakan secara tatap muka. Tapi, pandemi bikin semua jadi tak mungkin. Namun, dalam ketakmungkinan inilah justru menghadikan hikmah lain. Tasliati berujar, jikalau diselenggarakan tatap muka biasanya hanya diikuti oleh pelajar-pelajar dari kota-kota besar.

       
        Loading...    
   

“Iya, karena keterbatasan anggaran juga. Jadi, biasanya kami bikin hanya di Tanjungpinang atau Batam. Tapi, karena kali ini daring, justru pesertanya bisa merata sampai dari tujuh kabupaten/kota,” ucapnya.

Dalam ruang virtual inilah saya menjumpai Azka. Saat itu, saya berkesempatan menjadi salah seorang pemateri. Tahu bahwa ada satu wajah yang berasal dari Natuna, saya mengucapkan halo dan terima kasih telah bergabung. Pertanyaan pertama dari saya untuk Azka: “Wah, di Ranai (ibu kota kabupaten Natuna), lancar jaya sinyalnya?”

Azka tertawa. Barangkali, pertanyaan saya itu sudah didengarnya jutaan kali dalam beragam acara daring yang diikutinya. “Aman, Pak. Lancar, kan? Suara saya tak putus-putus, kan, ini?” ia bertanya balik.

Aman. Azka dan peserta lain mengikuti bengkel menulis cerpen daring ini tanpa gangguan hingga selesai.

Pada hari terakhir, seluruh peserta dipinta mengumpulkan cerpen yang menjadi tugasnya. Saya—sebagai salah seorang pemateri—harus memilih tiga terbaik. Setelah membaca secara cermat dan saksama, telah terpilih tiga naskah dengan nilai tertinggi. Dua di antaranya ditulis oleh siswa yang berasal dari Tanjungpinang—ibu kota provinsi Kepulauan Riau—dan satu lagi adalah berjudul Pulau Karang Tuah karya Azka Nahya Amanta.

Ini catatan yang mengejutkan. Bukan cuma saya seorang, tapi Tasliati dan teman-teman panitia yang lain ikut tercengang. Seorang siswa di Natuna mampu menulis karya sastra yang kualitasnya, secara umu, jauh di atas rata-rata dibandingkan siswa-siswa yang bersekolah di kota-kota besar seperti Batam, Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun.

“Dan punya Azka, dibanding dua yang lain, paling bagus dan rapi,” timpal Taslitai usai penilaian akhir.

Saya sepakat. Dengan sedikit polesan penyuntingan, cerpen Pulau Karang Tuah itu akhirnya layak tayang dan dimuat di koran edisi akhir pekan. “Belum pernah, kan, macam ini sebelumnya, Tih?” kata Tasliati kepada saya. Sebagai panitia, dia tampak puas kegiatannya berhasil menjaring seorang talenta muda kendati berada nun jauh di ujung utara.

Lewat pesan Instagram, saya mengucapkan selamat kepada Azka dan memintanya agar tetap berlatih menulis dan membaca banyak karya untuk menambah wawasan kepenulisannya. Azka mengirim emoji jempol yang disusul kalimat: “Iya, Pak. Kalau akses internet di Ranai selalu lancar, saya bisa terus membaca banyak tulisan bagus. Kalau (internet) gangguan, alamatlah kapal akan tenggelam.”

Alamak. Sudah pandai berkias pula si Azka.

Natunastra: Sang Penjaga Nyala

Sebagai seorang jurnalis yang ditugasi di bidang kesenian, sudah jadi kewajiban saya untuk memantau hampir seluruh komunitas kebudayaan yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Kepulauan Riau. Saya punya semacam database kecil-kecilan berisikan daftar komunitas dan pelaku seni seprovinsi.

Suatu ketika saya harus memasukkan satu daftar lagi komunitas di database itu yang bermula dari Instagram. Notifikasi merah menandakan ada pengikut baru. Saya buka. Nama komunitasnya nisbi unik dan mudah diingat: Natunasastra. Terang sekali dari namanya bahwa ini adalah komunitas sastra yang ada di Natuna.

Ada juga komunitas semacam ini di Natuna, batin saya. Kami saling menyapa di kotak pesan dan mengatur janji untuk wawancara. Destriyadi Imam Nuruddin menyanggupi. Ia adalah penanggung jawab utama Natunasastra.

“Tapi, saya lagi di Ranai, Bang. Mau wawancara via telepon?” tanyanya.

Kurang seru saja rasanya jika cuma bincang lewat suara. Saya mengajaknya via video konferensi. “Sinyal di Natuna aman, kan, kalau video call?”

Destriyadi tertawa. “Amanlah, Bang. Asal angin tak ribut saja, sih.”

Baru pada Jumat (13/8) malam lalu, janji wawancara itu tertunai. Selama 15 menit pertama, gambar dari Natuna tampak kabur. Wajah orang yang saya ajak bicara tampak petak-petak. Beruntung, suara masih terdengar jelas—biar sedikit delay, tapi belumlah sebegitu mengganggu.

Destriyadi berkisah, Natunasastra terbentuk pada Februari 2016. Saat itu, dia masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Jakarta. Kini telah rampung masa studinya dan pulang ke Natuna dan terus menghidupi Natunasastra hingga tak terasa sudah lima tahun usianya.

“Ya, banyak tantangannya juga, sih. Apalagi sastra di Natuna itu jelas berbeda seperti apa yang pernah kulihat di Jakarta atau Tanjungpinang,” ujarnya.

Mula-mula, dalam masa-masa awal Natunasastra, tutur Destriyadi, yang paling utama digenjot adalah program menjaring anak-anak muda di Natuna yang punya minat terhadap sastra. Tahun ke tahun, ternyata minat itu berlipat ganda. Tidak cuma di Ranai sebagai pusat keramaian kabupaten Natuna, tapi bahkan minat itu berdatangan dari pelosok dan pulau-pulau.

Gelaran Malam Puisi pada 2019 paling membekas dalam ingatan Destriyadi. Gawai ini adalah malam unjuk bakat anggota Natunasastra. Saat itu, yang hadir tidak cuma anggota yang di Ranai, tapi bahkan dari Pengadah dan Kelarik. Sekadar menginfokan, jarak antara Pengadah dan Ranai itu paling cepat ditempuh antara 60—90 menit dengan kendaraan bermotor.

“Kalau Kelarik ke Natuna itu dua kali lipat lebih lama. Bahkan, jalannya belum beraspal,” terang Destriyadi.

Berjam-jam mereka berkendara menuju Ranai dengan satu tujuan: menunjukkan bakat mereka dalam membaca puisi, syair, pantomim, dan monolog.

Bagaimana cara Natunasastra menggerakkan minat-minat itu untuk datang ke lokasi acara? Tidak ada cara lain selain memanfaatkan koneksi internet yang sudah semakin membaik di Natuna. “Di antaranya, ya, sering upload konten dan mengingatkan via grup WA begitu,” kisahnya.

Koneksi internet memang ‘senjata utama’ Natunasastra dalam menjangkau talenta-talenta seni berbakat yang ada di Natuna. Apalagi dalam situasi pandemi ini. Destriyadi menyebutkan, kelancaran internet sejalan lurus dengan kelancaran program-program Natunasastra. Pembatasan untuk berkerumun untuk bertemu untuk duduk ramai-ramai, kata dia, bukan berarti pembatasan kegiatan diskusi dan pembelajaran.

Saat ini, ada dua-tiga anggota Natunasastra yang tengah menyiapkan diri untuk mengikuti lomba mendongeng tingkat kabupaten. Pembinaan dan pelatihan dilangsungkan lewat jarak jauh. “Ya, kami manfaatkan Zoom itu untuk berlatih. Tentu harus menunggu cuaca teduh. Karena kalau angin ribut, sinyal seringkali hilang di sini, Bang,” kata Destriyadi.

Seorang anggota Natunasastra yang sedang disiapkan untuk mengikuti lomba itu, sebut Destriyadi, tinggal di pulau Subi. Tidak mungkin jika pelatihan dilakukan lewat tatap muka berhari-hari, karena jarak dari Ranai ke Subi itu perlu menyeberang berjam-jam. “Berangkat pagi sampai siang di Subi. Makanya memilih lewat Zoom itu. Walau sekali-sekala koneksi putus-putus, yang paling penting tetap berproses,” ujarnya.

Tidak cuma itu. Stabilitas jaringan internet di Natuna juga dimanfaatkan secara maksimal untuk diskusi rutin dan membedah karya. Beberapa yang ada di Ranai bisa tergabung tatap muka secara terbatas, akan tetapi tetap dibuka saluran telekonferensi agar yang berada berkilo-kilometer dari Ranai tetap bisa tergabung.

“Termasuk Azka itu lho, Bang. Dia anak Natunasastra juga. Bahkan di sekolahnya, dia juga rajin mengajak teman-temannya yang punya minat di sastra untuk gabung di Natunasastra,” kata Destriyadi semringah.

Sebentar … sebentar … Jadi Azka yang ikut bengkel menulis daring itu anak Natunasastra? Seketika saya merasa keheranan setahun lalu itu baru saja bertemu jawabannya.

Bakti di Ujung Utara Indonesia

Dalam tubuh besar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) ada sebuah unit organisasi non eselon yang bertugas melaksanakan pengelolaan pembiayaan kewajiban pelayanan universal dan penyediaan infrastruktur dan layanan telekomunikasi dan informatika. Nama unit ini Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) yang  sebelumnya bernama Balai Telekomunikasi dan Informatika Pedesaan (BTIP). Satu di antara tujuan perubahan ini adalah memenuhi tuntutan percepatan layanan hingga di kawasan terluar, terdepan, dan tertinggal.

Natuna tak bisa lepas dari daftar kerja Bakti. Sebagai kabupaten di ujung utara Indonesia, percepatan dan pemerataan layanan adalah kunci. Maka tak heran jika kemudian Bakti Kementerian Kominfo di Natuna digelontorkan berupa 17 tower Base Transceiver Station (BTS) dan 9 di antaranya sudah masuk dalam proses pembangunan. 

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Natuna, Raja Darmika menyatakan sisa pembangunan BTS di Natuna akan diselesaikan hingga 2022 mendatang. “Pak Bupati telah menyurati Kementerian Kominfo untuk mempercepat itu. Karena di era pandemi seperti ini, anak sekolah perlu internet lancar, kita yang bekerja juga perlu. Mudah-mudahan dengan adanya surat bupati, ke-17 lokasi itu dipercepat pembangunannya,” ujar Raja.

Menteri Kominfo Johnny G Plate saat berkunjung ke Natuna, April silam. (F. Dok. HumasProv Kepri)

Masih ingat dengan pelajar yang dikisahkan Destriyadi, yang rela menempuh perjalanan berjam-jam untuk dapat hadir dan unjuk bakatnya dalam acara Malam Puisi Natunasastra? Desa Pengadah, asal anak muda itu, adalah satu dari 17 lokasi BTS yang akan dibangun. Hal ini lantaran secara topografi, Pengadah terhalan kawasan pegunungan Ranai dan itu yang membuat sinyal internet di desa ini terkendala.

Perbaikan sinyal internet di Natuna oleh Kementerian Kominfo memang dilakukan secara bertahap. Puncak dari kerja ini adalah tatkala keberhasilan aktivasi Palapa Ring Barat pada 2018 lalu yang didukung jaringan kabel serat optik sepanjang 1.980 kilometer yang menghubungkan provinsi Riau dan Kepulauan Riau.

Semenjak itu, seperti yang dikisahkan Destriyadi, internet menjadi lebih cepat di Natuna. Sejak saat itu pula, ia semakin aktif memberdayakan Natunasastra lewat ranah digital untuk mengampanyekan dan menggelorakan minat sastra di Natuna. Itu mengapa Destriyadi berharap sinyal internet di Natuna sebisa mungkin stabil sekalipun hujan dan angin kencang. “Apalagi dalam situasi pandemi seperti ini, ketika Natunasastra sangat mengandalkan internet untuk keberlangsungan kegiatannya,” ujarnya.

Harapan Destriyadi itu coba dipenuhi oleh Menteri Kominfo, Johnny G Plate. Saat berkunjung ke Natuna April silam, Menteri Johnny menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mewujudkan digital nation di Natuna. Infrastruktur telekomunikasi dan Internet, kata Johnny, adalah salah satu pilar utama percepatan transformasi digital nasional. Dengan selalu memberikan perhatian dan pembangunan pada daerah-daerah yang selama ini masih tertinggal.

“Kami berharap pembangunan BTS 4G ini segera dapat mendorong efektifitas dan produktifitas masyarakat dengan melakukan aktivitas secara digital,” jelasnya.

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad pun tidak lena terhadap pembangunan internet di Natuna. Menurutnya, internet yang cepat dan responsif adalah kebutuhan yang tak kalah penting untuk daerah kepulauan. Ansar berharap kunjungan Menteri Johnny ini bisa mempercepat harapannya sekaligus harapan semua orang Natuna.

“Jika internet semakin stabil, persebaran informasi bisa menjangkau sampai ke pulau-pulau dan itu yang kami harapkan. Karena hari ini tantangan kita adalah pemerataan informasi dan peluang,” ujar Ansar.

Galang Donasi Buku via Internet

Satu di antara tantangan untuk kian menjaga nyala sastra di Natuna, kata Destriyadi, adalah penyediaan buku-buku bacaan. Di perpustakaan daerah Natuna tidak segala jenis bacaan—apalagi sastra—tersedia. Di Natuna tidak ada pula Gramedia—sekadar menyebut grup toko buku terbesar di negeri ini. “Dulu ada, sih, toko buku. Tapi yang dijual buku-buku masak,” lontar Destriyadi secara tertawa.

Perpustakaan Pagubuku Natunasastra. (F. Dok. Natunasastra)

Tantangan ada bukan untuk menyerah, melainkan dihadapi. Dan Natunasastra secara berani menghadapi keterbatasan terhadap akses buku-buku bacaan—sekali lagi—lewat pemanfaatan jaringan internet. Mereka berulang kali mengajukan bantuan buku bacaan kepada instansi-instansi terkait. Termasuk di antaranya ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

“Walau tidak banyak, tetapi lumayanlah untuk menambah koleksi di perpustakaan kami,” ungkap Destriyadi.

Pagubuku Natunasastra. Ini nama perpustakaan kecil mereka. Di sinilah semua anggota Natunasastra menikmati buku-buku bacaan yang sebelumnya begitu jauh tergapai dari tangan mereka. Biarpun sepetak, Pagubuku lumayan memenuhi minat baca segala umur. Mulai dari kanak-kanak hingga dewasa.

“Untuk saat ini, yang masih kurang adalah buku dongeng buat anak-anak,” sebut Destriyadi.

Destriyadi dan kawan-kawannya di Natunasastra sadar bahwa menjaga minat baca anak-anak ini adalah pekerjaan yang tak mudah. Biar begitu, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Hari ini, kata dia, semangat baca anak-anak yang tinggal di sekitar sekretariat Natunasastra di Ranai sedang tinggi-tingginya dan akan sangat disayangkan jikalau pada akhirnya mereka tidak lagi membaca karena ketiadaan buku yang menarik lagi.

Itu mengapa kini lewat jaringan internet yang semakin andal di Natuna, Destriyadi dkk semakin masif mengunggah konten-konten, baik itu di kanal media sosial maupun di blog publikasi mereka. Harapannya sederhana: jika nanti ada yang membaca dan tertarik buat berdonasi sudah tahu bagaimana mekanismenya.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa buku-buku bagus itu adanya ya di luar Natuna. Maka kami berpikir bagaimana buku-buku bagus itu pun bisa tersedia di sini,” ucapnya. Ini tantangan lain di tahun kelima Natunasastra dalam menjaga nyala sastra di Natuna. Media sosial adalah jendela mereka untuk mengintip ke luar dan ajakan bagi orang lain untuk melongok ke dalam. Dengan internet yang makin memadai di Natuna, tidak salah jika mereka berharap dua hal: pertama, semakin mudah mengakses karya-karya bagus yang terpublikasi dari penjuru nusantara, dan kedua, mengajak orang-orang untuk mendonasikan bukunya bagi perpustakaan kecil mereka.***

       
        Loading...    
   
BAGIKAN