Terangi Nusantara hingga Daerah Perbatasan, Dorong Indonesia Maju

Kawasan Tarempa Ibukota Kabupaten Anambas Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), daerah ini sudah dialiri listrik, termasuk di daerah terdepan. foto-Patria.

75 Tahun PLN dari Indonesia Gelap Terbitlah Terang

Lebih dari 72 ribu desa di Indonesia sudah terjangkau listrik. Artinya 99,48 persen desa di Indonesia sudah terkoneksi dengan pembangkit listrik. Tak terkecuali di Provinsi Kepulauan Riau yang berbatasan dengan empat negara juga sudah terjangkau listrik. Rasio ini meningkat sangat signifikan. Di 2014, rationya masih di posisi 84,3 persen. Capaian itu juga melampaui target RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2015-2019 sebesar 96 persen.

PATRIA, Tarempa

Kontraktor PLN sedang memasang jaringan PLN di bawah tanah di pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Tanjungpinang. foto-Patria.

Abdullah, (43), warga Desa Kukup, Kecamatan Tambelan tak harus menunggu listrik nyala pada pukul 17.00 untuk memulai kerjanya sebagai tukang guna merapikan papan di rumahnya.
Dahulu, sebelum listrik listrik di Tambelan sejak Indonesia merdeka 1945 sampai dengan awal Oktober 2019 masih nyala 12 jam. Hidup pada pukul 17.00 sore dan mati lagi pada pukul 06.30 pagi.

Hal itu mulai diberlakukan sejak Tambelan dialiri listrik PLN sejak tahun 1990 an. Sebelum listrik dari PLN masuk ke Tambelan, listrik di sana dikelola oleh tiap tiap desa. Listrik desa lebih parah lagi. Hidup pukul 18.00 dan mati pukul 22.00. Selebihnya warga menggunakan petromak untuk melanjutkan penerangan sampai siang. Ada juga yang menggunakan pelita.

       
        Loading...    
   

Listrik pertama kali masuk ke Tambelan tahun 1948. Listrik kampung itu dialiri ke rumah warga dengan menggunakan kabel yang dibeli dari Singapura. Namun tidak semua merasakan listrik kampung itu. Karena warga masih banyak gunakan pelita. Sejenis penerangan dari mintak tanah yang diberikan sumbu lalu diletakkan dalam botol. Ujungnya dibakar. Api dari sumbu itulah menerangi rumah yang dapat digunakan untuk belajar anak anak ketika malam hari.

”Jika pelita diletakkan di dekat kasur, kalau bangun pagi, hidung akan hitam,” kata Halinda, kepada luarbiasa awal Februari 2021. Ia warga Kelurahan Teluk Tambelan yang tinggal di Tambelan lebih dari 50 tahun.

Halinda tahu mengenai perkembangan listrik di Tambelan. Ketika belum ada PLN, Halinda menggunakan mesin genset sendiri untuk menerangi rumahnya. Sampai saat ini mesin genset merek Ts 105 itu masih ada di belakang rumahnya.

“Jaga jaga jika listrik mati mesin ini dapat dihidupkan. Setidaknya jika disambungkan kabel bisa menerangi surau Al Mustaqim di depan rumahnya. Dinamo mesin itu pernah dicuri warga ketika mereka ke Tanjungpinang.

Kini, Kecamatan Tambelan terletak di Laut Natuna Utara itu sudah nyala 24 jam. Tambelan dekat dengan Kalimantan Barat sekitar 90 mil. Dan 210 mil dari ibukota Kabupaten Bintan di Pulau Bintan. Penduduk di kecamatan ini berjumlah lebih kurang 1.700 KK sekitar 5.600 warga.

Tambelan memiliki satu kelurahan Teluk Sekuni, Desa Batu Lepok, Desa Melayu, Desa Hilir, Desa Kukup. Sedangkan 6 jam perjalanan laut dari Tambelan ada lagi Desa Pulau Pinang, Desa Mentebung, dan Desa Pengikik. Tiga desa ini listrik masih hidup pukul 17.00 sampai pukul 22.00. Setelah itu warga tidur dengan menggunakan pelita. Ada juga menggunakan lampu dengan bantuan Aki.

”Malam warga tidak ada aktivitas. Mereka banyak memilih istirahat,” ujar Devi Pratiwi, seorang bidan desa yang pernah ditugaskan Puskemas Tambelan untuk membantu mengobati warga di Desa Pulau Pinang. Rata-rata di Pulau Pinang maupun Desa Mentebung listrik warga masih hidup terbatas sampai pukul 22.00. Profesi warga mayoritas nelayan.

Baca Juga :  Bupati Anambas Minta Kaji Ulang Permen-KP 59/2020

Bupati Bintan pun Apri Sujadi tak kalah usaha memperjuangkan aspirasi warganya agar listrik nyala 24 jam. Apri pun meminta khusus baik melalui surat resmi dari Pemkab Bintan ke PLN Tanjungpinang agar listrik di Tambelan dan daerah lainya di Bintan dinyalakan 24 jam.

Awal Februari 2021, Apri bersama dengan PLN Tanjungpinang meresmikan listrik 24 jam di Kecamatan Mantang. Masuknya listrik di kawasan pulau seperti Mantang, merupakan bagian suksesnya infrastruktur ketenagalistrikan hingga ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak terjangkau akses listrik yaitu daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bintan Fiven Sumanti memberikan apreasiasi PLN bisa menjangkau daerah pesisir di Bintan. ”Kita mendukung program PLN menerangi seluruh Indonesia khususnya Bintan. Karena manfaat listrik ini banyak sekali untuk warga. Mereka sangat terbantu dengan adanya listrik,” kata Fiven yang sudah 10 tahun menjadi anggota DPRD Kabupaten Bintan.

Sementara di Tarempa, Kabupaten Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, Sri Dayanti yang sehari hari bertugas sebagai perawat di Puskesmas Anambas sudah lama merasakan listrik di sana. Ia pernah bertugas di Puskesmas di kawasan Pulau Piyan Pasir. Di sana listrik waktu itu masih 12 jam. Saat ini sudah 24 jam.

Kabupaten Tarempa bisa dijangkau dengan kapal cepat memerlukan waktu 8 jam perjalan laut. Jika dengan kapal Pelni Sabuk Nusantara waktu tempuh agak lama bisa menembus 21 jam dari Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Bisnis di Tarempa ibu kota Kabupaten Anambas dan bebepa pulau dikunjungi luarbiasa kebanyakan sudah dialiri listrik. Termasuk pulau pulau terdepan berpenghuni.

Kawasan Tarempa, Kabupaten Natuna. Di daerah ini sudah mendapatkan pasokan listrik. foto Patria

Kabupaten Anambas berbatasan langsung dengan Tiga negara seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia. Sama halnya dengan di Kabupaten Natuna. Kendala listrik di daerah ini juga tidak masalah.” Rata rata sudah dialiri listrik,” ujar Hidayat, pensiunan guru di Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna. Kalau daerah yang berpenghuni sudah terang bernderang.

Di Kabupaten Lingga, Harun, salah satu tokoh mengatakan, daerah di Lingga juga hampir sebagian besar sudah terjangkau listrik. “Listrik ini sangat penting untuk meningkatkan dan menggerakan perekonomian warga,” kata Harun kepada luarbiasa belum lama ini. Ia mantan anggota DPRD Lingga.

Iskandarsyah, warga Kabupaten Karimun pun mengakui jika di Karimun juga sudah terjangkau listrik. ”Saya kira listrik sudah menerangi Karimun. Dan itu sangat mendorong percepatan pembangunan di Karimun,” kata calon Bupati Karimun yang saat ini masih bersengketa di Mahkamah Konstitusi itu. Direktur Perencanaan Korporat PLN Muhammad Ikbal Nur mengatakan tantangan utama bagi PLN saat ini adalah melistriki semua wilayah di Indonesia. Hingga akhir 2020, rasio elektrifikasi telah mencapai sekitar 99%. Namun PLN berkomitmen untuk melistriki 100% wilayah di Indonesia.

Dalam mencapai rasio elektrifikasi 100%, menurutnya tantangan utama adalah menjangkau daerah-daerah yang sangat terpencil. Beberapa pulau menurutnya bahkan belum memiliki akses jalan.

Baca Juga :  Semasa Apri Sujadi, Puskesmas Mentigi Makin Elok

Gelap Identik Kemiskinan

Tangkapan foto satelit yang diterbitkan The Economist menampakkan kesenjangan negara kaya dan negara miskin di dunia dengan melihat jumlah cahaya yang tertangkap di foto satelit. Negara bagian Eropa begitu terang. Sedangkan di Afrika, terlihat gelap. Begitu juga ketika kita terbang malam dari Jakarta ke Batam, maka akan terlihat terangnya Singapura dibandingkan beberapa daerah di Kepulauan Riau yang terlihat mulai dari beberapa pulau Lingga, Batam dan Bintan jelas terlihat.

Kawasan Pancur Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) juga sudah dialiri listrik, sehingga roda perekonomian masyarakat terus berputar.foto-Patria

Listrik, selain menjadi simbol modernitas, kehadiran listrik telah mempercepat kemajuan ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, termasuk emansipasi politik dan ideologi. Adalah Rudolf Mrazek yang menulis, “Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di sebuah Koloni”. Mrazek telah meletakkan landasan bagi studi lanjut tentang sejarah perkembangan teknologi di tanah kolonial. Meski hanya dua halaman menyinggung soal listrik, Mrazek mampu menghubungkan kehadiran listrik dan teknologi lainnya dengan nasionalisme bumiputera pada awal abad ke-20 sebagai “cahaya-cahaya baru dan lampu-lampu yang muncul setiap hari”.

Studi Purnawan Basundoro tentang perusahaan listrik “Algemeene Nederlandsche Indische Electriscitiet Maatschappij” (ANIEM) di Surabaya, bisa dianggap pelopor penulisan sejarah kelistrikan di daerah. Studi yang dimuat dalam “Dua Kota Tiga Zaman, Surabaya dan Malang Sejak Kolonial sampai Proklamasi”, memberikan informasi perusahaan-perusahaan listrik yang menjadi bagian dari NV. ANIEM.

Purnawan juga memberikan laporan jumlah daya listrik yang terjual (kWh) menggunakan sumber “Verlag NV. Algemeene Nederlandsche Indische Electriscitiet Maatschappij (ANIEM), Boekjaar 1936-1941”. Studi yang cukup menarik dilakukan Susie Protschky, “The Empire Illuminated: Electricity, Ethical Colonialism and Enlightened Monarchy in Photographs of Dutch Royal Celebrations, 1898-1948” dimuat di “Journal of Colonialism and Colonial History”, Volume 13, Winter 2012.

Eko Sulistyo, Komisaris PLN mengatakan, mengutif tulisan Susie memperlihatkan banyak aspek perubahan sosial budaya kehadiran listrik di kota-kota kolonial yang dianalisanya dari foto-foto para keluarga Belanda yang pernah tinggal di Hindia. Susie menyimpulkan bahwa listrik di Hindia lebih mapan dan bisa diterima dibandingkan di Belanda pada periode yang sama.

Kemajuan hebat diraih Indonesia di mana listrik mulai menerangi Indonesia. Dari pancaran satelit pun, Indonesia tidak lagi gelap. Namun sudah kelihatan terang dibandingkan beberapa negara di ASEAN lainya Vietnam ataupun Kamboja. Jika di daerah perbatasan dengan Kepri, maka kawasan seperti di Batam, Lingga, Karimun dan Tanjungpinang serta Bintan tentu kalah terang dibandingkan cahaya lampu Singapura yang jelas terlihat dari Batam.

Pelan tapi pasti, PLN secara cepat mulai bergerak cepat menerangi wilayah Indonesia khususnya di Kepri yang berbatasan langsung dengan negara modern seperti Singapura. Realitanya di daerah perbatasan dengan negara Singapura dan Malaysia, menjelang pergantian tahun 2020 ke 2021, PT PLN (Persero) Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (Kepri) resmi mengaliri sebagian besar daerah di Kepri dan Riau dengan listrik. Ini upaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Riau dan Kepri mendapat apresiasi dari pemerintah daerah.

Pada akhir 2020, total desa berlistrik di Riau sudah mencapai 100 persen. Sementara di Kepri yang memiliki 2.408 pulau sudah sebagian besar pulau berpenghuni dijangkau listrik. Itu diakui mantan Gubernur Kepri Isdianto yang berusaha mendorong PLN menerangi daerah di Kepri. Terakhir ada 17 desa yang memperoleh listrik di penghujung tahun 2020.

Baca Juga :  Final, Ansar-Marlin Unggul 28.393 Suara dari Insani

Di antaranya yang sudah dialiri 11 desa di Provinsi Riau, yaitu Desa Dua Sepakat, Desa Ludai, Desa Batu Sanggan, Desa Tanjung Beringin, Desa Pangkalan Serai, Desa Subayang Jaya, Desa Terusan, Desa Aur Kuning, Desa Pelanduk, Desa Suraya Mandiri, dan Desa Pulau Ruku. Lalu, enam desa di Kepri, yaitu Desa Cempa, Desa Tanjung Batu Kecil, Desa Tanjung Hutan, Desa Air Asuk, Desa Liuk, dan Desa Lidi.

“Sehingga di penghujung tahun 2020, rasio elektrifikasi desa berlistrik Riau sudah 100 persen,” kata General Manager PT PLN Unit Induk Wilayah Riau-Kepri Dispriansyah. Sementara di Kepri meningkat 7,39 persen dari sebelumnya 90,95 persen menjadi 98,29 persen.

Kepuasan masyarakat atas maksimalnya layanan PLN menerangi Indonesia terlihatr dari hasil survei yang dilakukan oleh MarkPlus Inc memberikan kesimpulan bahwa listrik dan gas merupakan utilitas yang paling sering digunakan publik sebesar 95,2 persen. Disusul kemudian air bersih (73,3 persen). Saat ini akses untuk mendapatkan fasilitas tersebut diakui sudah cukup mudah dijangkau. “Lebih dari 90 persen responden mengatakan bahwa akses ke utilitas itu cukup mudah.

Artinya mereka sudah terjangkau oleh utilitas,” kata, Senior Business Analyst MarkPlus James Leonardo Djoni dalam The 2nd MarkPlus Industry Roundtable Utilities Industry Perspective, belum lama ini.

Presiden Joko Widodo mengingatkan PLN, jangan berpuas dengan electricity access population Indonesia berada di peringkat ke-95, masih tertinggal dari Malaysia peringkat ke-87 atau Vietnam peringkat ke-84. Begitu pula, dari sisi electricity supply quality, Indonesia belum meraih posisi tinggi atau baru di peringkat-54.

Sedangkan, Filipina 53, Malaysia 38, Thailand 31, dan Tiongkok 18. Artinya, listrik di sebagian desa Indonesia berfungsi sebatas penerangan dan penunjang telekomunikasi. Tapi, belum menjadi energi untuk produksi.

Di Indonesia masih ada 433 desa yang belum berlistrik. Memang, tidak seberapa dibanding jumlah desa yang ada. Desa yang belum berlistrik itu berada di empat provinsi, yakni di Papua 325 desa, Papua Barat 102 desa, NTT 5 desa, dan di Maluku 1 desa. Tak semua listrik itu hasil pasokan PLN.

Laporan akhir 2019 oleh Kementerian ESDM menyebutkan, listrik PLN telah masuk ke 74.430 desa. Namun, di luar itu ada 5.515 sumber listrik swadaya masyarakat setempat atau sumbangan lembaga filantropi untuk mengintroduksi atau menambah kapasitas listrik yang ada.

Menurut peneiliti LIPI Tri Sambodo, Untuk bisa keluar dari kemiskinan ganda, perlu ada sinergi baik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) selaku penyedia akses listrik, Pertamina sebagai penyedia energi bersih untuk memasak, dengan pemerintah desa dan program tanggung jawab sosial sektor swasta bidang energi listrik dan energi bersih yang berlokasi di pedesaan.

Hasil kalkulasi sementara berdasarkan potensi desa memperlihatkan bahwa desa dengan akses listrik cenderung memiliki indeks pembangunan desa yang lebih baik.

Dan akhirnya Indonesia tak akan maju jika masih ada gelap karena tidak dialiri listrik. “Akses listrik itu untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar peneliti LIPI Wisnu Handoyo. Di 75 tahun lahirnya PLN, perusahan negara ini sukses membawa Indonesia terang melalui listrik sehingga Indonesia berdasarkan prediksi dari Bank Dunia dan IMF, masuk 10 negara di dunia dengan PDB tertinggi pada 2024. ***

       
        Loading...    
   
BAGIKAN