Tiga Nama Bandara Tambelan Diusulkan ke Bupati

       
        Loading...    
   

TAMBELAN – Ketua Ikatan Keluarga Tambelan di Tanjungpinang, Atmadinata mengatakan, pada Mei lalu pihaknya sudah mengusulkan tiga nama untuk Bandara Tambelan, Kabupaten Bintan Provinsi Kepri.


Untuk usulan itu, mereka mengikuti prosedur seperti yang diatur dalam pasal 45 Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 39 tahun 2019 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.


Bahwa pemrakarsa mengusulkan nama bandara setelah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota di mana bandara tersebut berada.


”Sudah kami usulkan ke Bupati Bintan di akhir bulan Mei lalu. Ada 3 nama tampungan aspirasi yang muncul dari masyarakat Tambelan di Tanjungpinang. 3 nama tersebut adalah, pertama nama tempat yang monumental di Tambelan yaitu Kandil Bahar, dua nama tokoh zaman klasik, yaitu Sultan Abdullah Muayatsyah, ketiga tokoh zaman baru Muhammad Adnan Kasim,” ujarnya.


Ketiga nama tersebut merupakan nama yang sudah lekat dalam memori kolektif bagi masyarakat Tambelan yang sudah menjadi milik bersama (sense of belonging) dan menjadi kebanggaan (sense of pride) warga Tambelan.


”Betul. Tokoh masyarakat baik formal maupun nonformal di Tambelan hanya mengusulkan satu nama saja yaitu Kandil Bahar. Sedangkan masyarakat Tambelan di Batam mengusulkan satu nama juga yaitu Sultan Abdullah Muayatsyah. 
Nama ini juga diusulkan oleh masyarakat Tambelan di Kalimantan Barat. Sayang, kerukunan warga Tambelan yang di Jakarta dan Pekanbaru belum mengajukan usulan resmi setau saya,” tambahnya.


Soal pertanyaan ada diantara warga Tambelan yang menggiring salah satu nama melalui wadah media sosial, ia mengatakan tidak masalah.


”Silahkan saudara saya yang lain melakukan iklan atau kampanye untuk nama yang lain pula. Namun satu nama harus diusulkan oleh Bupati Bintan atau Gubernur Kepri ke Menhub. Bagi saya sebagai ketua Kerukunan Tambelan di Tanjungpinang, ketiga nama tersebut silahkan Bupati Bintan atau Gubernur Kepri mau pilih yang mana tidak jadi soal. Karena ketiga nama tersebut sudah dirembukkan sebagai kesepakatan dalam musyawarah kami,” ungkapnya.


Beda pendapat itu hal biasa. ”Biasalah ada keinginan beda-beda.Tahun 1985, 1986 dulu mau memberi nama bandara terbesar di Indonesia. Banyak juga usulan dan silang pendapat. Ada yang mengusulkan nama Daan Mogot, Cengkareng, dan akhirnya disepakati nama Soekarno Hatta,” katanya mencontohkan.


Pada kenyataannya, banyak orang  ketika ditanya mau ke mana, tidak menjawab mau ke Soekarno Hatta. Tapi ke Jakarta. Mau ke mana? Ke Batam bukan ke Hang Nadim. Mau kemana? ke Bali bukan ke Ngurah Rai kan?.


Begitu juga nanti orang tidak akan menyebut mau ke Kandil Bahar atau ke Muhammad Adnan Kasim, atau mau ke Sultan Abdullah Muayatsyah. Tapi mau ke Tambelan atau dari Tambelan.


Pencantuman kode di tiket pesawat pun misalnya Bandara Raja Haji Fisabilillah itu TNJ. Maksudnya Tanjungpinang. BTH singkatan dari Batam. Bukan Hang Nadim. Bandara Soekarno Hatta CGK. Maksudnya Cengkareng kan?.


Di sini lah mungkin tepatnya kata-kata klasik dari William Shakespeare yang menyatakan, apalah arti sebuah nama. ”Walau sekalipun nama itu tetap penting,”  ujarnya.


Atmadinata percaya, masyarakat Tambelan akan menerima apapun nanti nama yang akan diusulkan oleh Bupati Bintan atau Gubernur Kepri ke Menhub berdasarkan dari nama yang diusulkan oleh masyarakat Tambelan tak akan menjadi keriuhan.


Karena warga Tambelan sudah mensyukuri dan bangga atas selesainya pembangunan lapangan terbang Tambelan tersebut dan sebentar lagi akan diresmikan. (mas)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN