Kultural adalah Modal

Oleh Agung S. Prasatya
Wartawan luarbiasa.id

SEORANG redaktur senior di ruang redaksi punya kelakar politik menggelitik perut dan otak. Tiga detik pertama setelah mendengarnya, saya tertawa. Selanjutnya, giliran otak saya yang menimbang dan menyimpulkan ada benarnya. 

Dia memlesetkan aforisme Descartes: Cogito ergo sum. “Kalau bapak filsafat modern dari Prancis itu bilang, aku berpikir maka aku ada. Dalam kepala orang-orang partai politik kita, aku pasang baliho maka aku ada.” 

Seperti yang sudah saya katakan, mula-mula saya tertawa. Saya pernah iseng menghitung jumlah baliho partai politik di Tanjungpinang. Hasilnya, saya lebih sering kehilangan hitungan karena jumlah jari di tangan jauh dari kata mencukupi. 

       
        Loading...    
   

Di sisi lain, kehilangan hitungan itu adalah implikasi nyata bahwa begitu gemarnya orang-orang politik kita memajang wajahnya—tak peduli ongkosnya berjuta-juta—dengan harapan tunggal: dirinya akan selalu diingat orang. Ini yang membuat saya berpikir setelah puas tertawa digebuk plesetan aforisme tadi. 

Orang-orang politik di kota kita masih berpikir dengan cara lampau. Dipikirnya, dengan sering mejeng di jalan, dengan pose yang begitu-begitu saja, dengan desain yang ala kadarnya, dengan jargon yang kuno adanya bisa membuat kami, anak-anak muda, mudah mengingat, apalagi terkenang. Oh, tidak semudah itu, Bapak-bapak dan Ibu-ibu.

Sesungguhnya, tiap hari kami sudah digempur ragam informasi visual yang 27 derajat lebih keren, baik di dunia nyata apalagi dari dunia maya. Sehingga, jujur saja, apa yang para politikus tampilkan itu sekadar angin lalu dan sama sekali tidak membekas.

Satu yang luput dari mereka adalah penguasaan komunikasi publik. Hari ini bukan lagi zaman siapa yang paling sering terpampang otomatis jadi pemenang. Sekarang adalah masanya untuk berstrategi secara kreatif untuk tetap komunikatif.

Menjadi khas adalah kata kuncinya. Khas tentu berbeda dengan norak. Kalau norak itu sekadar tampil, yang penting nyeleneh, yang penting menyita perhatian publik. Sementara khas itu pandai memanfaatkan elemen-elemen komunikasi agar tidak cuma pesan yang sampai, tapi juga mengenang lantaran turut timbul identitas di sana.

Agar mampu mencapai pola komunikasi semacam itu menjadi kultural adalah modal.

***

Tanjungpinang punya karakter kultural yang solid. Maka, barangsiapa yang memanfaatkan karakter ini, niscaya punya kaveling di hati masyarakatnya. Jika harus menyebut satu partai politik yang paling melek aspek kultural dalam komunikasinya, Partai Demokrat adalah jawabannya.

Sebentar. Jangan keburu menuding bahwa saya simpatisan mereka. Tidak. Justru kalau mau tahu, ada partai politik lain yang kalender dan pernak-perniknya terpajang di rumah. Jawaban saya bahwa Partai Demokrat adalah partai politik di Tanjungpinang yang paling sadar akan potensi kultural itu objektif. Tinjau sendiri pola komunikasi mereka, baik di baliho-baliho tepi jalan maupun sosialisasinya di dunia maya.

Jika politikus dari parpol lain memanfaatkan kultur sebatas sebagai “siasat merebut hati masyarakat di musim kampanye”, tidak bagi politikus yang tergabung dalam partai yang didirikan Pak SBY ini. Budaya adalah identitas. Budaya adalah jati diri. Sehingga, kampanye ataupun tidak, haruslah dihidupi, haruslah jadi bagian sehari-hari.

“Kebudayaan itu harus diperjuangkan. Politik adalah alat memperjuangkannya,” begitu seruan Sekretaris DPD Partai Demokrat Kepri, Husnizar Hood, yang tinggal di Tanjungpinang.

Ini bukan kalimat yang mengada-ada, bukan pula dipikirkan serampangan. Seruan itu adalah penerjemahan dari salah satu program kerja Agus Harimurti Yudhoyono sebagai ketua umum: Memperkuat komunikasi politik yang efektif di setiap lini. Dengan apa komunikasi politik bisa diperkuat dan efektif tepat sasaran selain memanfaatkan aspek kultural yang melekat pada masyarakat.

Dalam lingkup Tanjungpinang, pantun bukan barang asing. Ini turut dimanfaatkan secara baik hampir di setiap baliho Partai Demokrat di Tanjungpinang. Belum lagi dipadupadankan dengan desain yang modern. Hal ini membuat baliho mereka lebih memberi kesan dibandingkan milik partai politik lain.

Tak berhenti di situ. Aspek kultural sebagai modal juga dimanfaatkan benar dalam program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seingat saya, sepanjang usia saya, belum ada ketua umum partai politik yang main ke Tanjungpinang dan membuat ragam kegiatan dan festival kreatif seperti yang pernah dilakukan AHY saat meluncurkan program Indonesia Berlari 2045 di sini.

Tentu yang paling bikin saya geleng-geleng adalah terobosan kultural memanfaatkan fragmen teater tradisional Makyong sebagai medium komunikasi kepada masyarakat. Husnizar Hood dan Pepy Candra harus diakui berhasil membawa produk kultural orang Melayu ke kancah yang lebih luas secara nasional.

Pesan-pesan politik Partai Demokrat dikemasnya tidak setegang tali jemuran, sehingga mudah diterima baik oleh masyarakat luas. Bahkan, dengar-dengar kabar, sampai-sampai Pak SBY sendiri yang ‘memaksa’ Makyong ini tampil di Munas Partai Demokrat di Lombok pada 2017 silam.

Jika Partai Demokrat berikrar bahwa mereka berkoalisi dengan rakyat, pendekatan dan pemanfaatan aspek kultural adalah modal. Yang ditampilkan oleh politikus partai ini di Tanjungpinang sudah berada di jalur yang tepat. Tinggal bagaimana ke depan membawa cara pandang ini menjangkiti pengurus yang lain di penjuru negeri. Selalu ingat bahwa karena kesantunanlah Pak SBY begitu berkesan di hati masyarakat. Tidak mungkin menjadi santun tanpa mengedepankan dan memuliakan kebudayaan. Mustahil.***

       
        Loading...    
   
BAGIKAN