Tak Sah Sebelum Sesap Kopi Sekanak

Host Hai Wai Rida K Liamsi bersama pengusaha Kopi Sekanak Tedja Alhab
Host Hai Wai Rida K Liamsi bersama pengusaha Kopi Sekanak Tedja Alhab

TANJUNGPINANG – Narasumber Program Hari Hai! Satu Jam Bersama Dato’ Rida K Liamsi Tanjungpinang TV yang live di Facebook TVTPI di Studio 2 Komplek Bintan Batu 9, Senin (28/9) kemarin adalah Dato’ Teja Alhabd.

Mengambil tema ‘Kopi Sekanak dan Teja Alhabd’, pengusaha berusia 55 tahun itu membeberkan semua kelebihan Kopi Sekanak itu yang merupakan racikan dari kopi dan 11 jenis rempah-rempah terbaik di Provinsi Kepri.

Rempah-rempah ini merupakan jenis yang dihidangkan di kalangan para sultan dan raja Kerajaan Melayu ratusan tahun silam. Dan kini, sajian istimewa para raja-raja dulu itu bisa dinikmati siapa saja saat ini.

Kopi Sekanak menjadi unggulan yang harus dinikmati dan tidak akan lengkap menginjakkan kaki di tanah Melayu ini sebelum menyeruput Kopi Sekanak yang kini beralamat di Jl. Sultan Machmud, Tanjungunggat, Bukit Bestari, Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dengan merek ‘Kopi Sekanak Dapoer Melayu’.

       
        Loading...    
   

Sama dengan turis asing jika menikmati liburannya ke Indonesia, tidaklah lengkap jika belum menginjakkan kaki di Pulau Bali. Dan tidaklah lengkap ke Tanjungpinang sebelum minum secangkir Kopi Sekanak.

Di masa pandemi Covid-19 ini, jangan takut duduk mengopi di Kedai Kopi Sekanak Dapoer Melayu karena sebelum minum kopi, setiap pengunjung akan disuguhkan air minum ramuan rempah kayu sepang.

Inilah salah satu pohon yang mengandung antibiotik tinggi. Semakin banyak mengonsumsi ini, maka semakin besar kemungkinan terhindari dari virus Korona.

Setelah itu, para pengunjung bisa memesan kopi sesuai dengan menu yang ada. Berbagai varian jenis kopi yang ditawarkan kepada pengunjung. Ada yang ramuan 5 rempah rempat, tujuh ramuan, sembilan ramuan dan 11 ramuan.

Kopi Sekanak juga diracik dari berbagai rempah-rempah yang ada di darat dan laut Kepri. Karena ada tumbuhan di laut yang khasiatnya tinggi ikut dicampur dalam Kopi Sekanak.

Ramuan-ramuan rempah ini selalu disuguhkan dalam acara besar saat kerajaan Melayu zaman dulu dan sempat hilang. Tahun 2012 lalu, Teja mendirikan usahanya itu dan mengembalikan sajian kopi kerajaan ratusan silam.

Kini, siapapun bisa menikmati minuman para sultan dan Panglima Hang Tuah yang pemberani itu. Kopi ini pun sudah diramu agar aman di perut karena zat asamnya sudah sangat minim.

”Makanya aman di lambung. Ramuan itu kita rebus supaya zat asamnya hilang. Makanya, tidak masalah di perut,” jelasnya.

Jika ingin merasakan seperti apa jamuan kopi dan kue di zaman kerajaan dulu, maka kesimpulannya ada di Kedai Kopi Sekanak tersebut. Kue-kue zaman dulu, kini sudah dihidangkan di sana.

Kedai Kopi Sekanak ini juga mendapat pujian dari berbagai jendral. Beberapa waktu lalu saat masih menjabat KASAL, Marsetyo pernah duduk mengopi di sana demikian juga dengan Mantan Danlantamal IV Tanjungpinang Ribut Eko Suyatno.

Di zaman pandemi ini, bisnis kedai kopi dan makanan masih lebih tahan menghadapi krisis ekonomi saat ini. Dan terbukti, makanan khas Melayu bisa bertahan dan menjadi salah satu alternatif untuk membuka bisnis baru saat ini.

Awalnya, cerita Teja, Kedai Kopi Sekanak ini bermula saat dirinya pergi ke Jakarta. Saat itu, mantan Walikota Tanjungpinang Suryatati A Manan menerima penghargaan di Jakarta dari pemuka Melayu.

Saat itu sebagai sastrawan dan seniman Melayu, Teja juga ikut kesana. Namun Teja sudah sore sampai di Jakarta. Malam setelah penerimaan penghargaan itu, pihak protokol Pemko Tanjungpinang mengatakan, mereka akan pulang besok paginya pukul 05.00 dari hotel.

”Sore baru sampai, acaranya malam. Besok pagi langsung pulang. Jadi tak sempat membeli oleh-oleh. Sementara anak-anak pasti berharap dapat oleh-oleh. Besoknya pukul 05.30 kami sudah di bandara dan akan pulang. Waktunya sangat singkat,” kisahnya.

Teja pun merasa ‘dendam’ dengan oleh-oleh itu. Saat itu, Teja juga sempat berpikir seperti apa kekecewaan pengunjung yang datang ke Tanjungpinang apabila tidak kebagian oleh-oleh.

Akhirnya, Teja menyampaikannya kepada Suryatati bahwa dirinya akan mendirikan satu pusat oleh-oleh di Tanjungpinang. Sehingga, tamu-tamu yang datang ke kota ini bisa menikmati oleh-oleh.

Teja pun membuka Dapoer Melayu dengan produknya kue-kue kerajaan Melayu dulu. Kemudian, usahanya terus dikembangkan lalu dia membuka usaha Kopi Sekanak tersebut.

Kopi ini pun terus dikembangkan hingga berbagai jenis (variatif). Berbagai masukan pun dia terima termasuk dari salah satu buku karangan Rida K Liamsi yang diluncurkan tahun 2012.

Informasi seputar kerajaan Melayu dan kuliner Melayu dari zaman-zaman dulu itu terus dia jadikan masukan yang baik mengembangkan usahanya tersebut dan mulailah Teja meramunya hingga produk atau jenis kopinya semakin banyak. Sehingga pilihan pelanggan pun makin banyak.

Teja mengatakan, sebelum membuka usahanya itu, Teja sempat bergerak di bidang sastra dan seni di Tanjungpinang. Menjadi event organizer yang menyelenggarakan berbagai kegiatan sastra dan seni. Termasuk kegiatan di Penyengat yang diselenggarakan selama dua tahun.

Teja juga menciptakan lagu-lagu Melayu termasuk lagi Raja Haji Fisabilillah. Lagu itu kerap dinyanyikannya saat menimang-nimang anaknya yang pertama. Bahkan, lagu ciptaannya hingga dua album.

Teja sendiri sebelumnya merupakan pengusaha ekspor kepiting. Teja menampung kepiting dari Pulau Bintan dan Lingga lalu diekspor ke berbagai negara salah satunya Jepang.

Meski uang dari usaha itu cukup banyak, namun Teja belum menemukan rasa nyaman akan usahanya itu. Kemudian ditutupnya lalu beralih menjadi EO sekaligus menggeluti sastra dan seni di Tanjungpinang.

Teja juga pernah menjadi perusahaan jasa tenaga kerja ke luar negeri. Teja mengirim TKI ke Malaysia dan Singapura. Meski usaha itu menghasilkan uang, namun batinnya mengatakan, usaha itu tidak cocok untuknya.

”Itu pun saya tutup. Usaha ekspor kepiting saya tutup. Uang banyak, tapi hati tidak senang. Yang benar-benar uang itu jika ada recehan di tangan. Dan saya baru merasakannya saat membantu mertua saya yang memiliki usaha foto kopi. Saat itu hanya Rp50 per lembar. Tapi benar-benar kita memiliki uang. Dulu, banyak uang, tapi begitu-begitu saja,” kisahnya.

Sebelum ke Tanjungpinang, Teja merupakan pengusaha di Pekanbaru. Salah satu usahanya yang terakhir adalah bibit kelapa sawit yang dikirim ke Sulawesi. Namun dia bangkrut hingga kembali ke nol.

”Satu bulan saya tidak keluar dari rumah. Saya stres memikirkan uang sebanyak itu habis begitu saja,” kenangnya.

Mantan Gubernur Riau, Soeripto pun memberinya semangat agar dirinya pindah kota. ”Saya masih ingat kata-kata beliau itu. Jika masih tinggal di Pekanbaru, Teja sama saja membangun lubang yang lebih dalam dan akan masuk ke dalam,” katanya menceritakan kata-kata mantan gubernur itu.

Teja sendiri bertemu istrinya di Pekanbaru yang saat itu bekerja di salah satu bank swasta di Pekanbaru. Saat dia bangk

rut, istrinya tetap memberinya semangat. Mereka pun pindah ke Tanjungpinang.

Sebelum menjadi pengusaha bibit kelapa sawit, Teja sudah bekerja pada salah satu dokter untuk menangani rumah sakit maupun toko obat. Sebelum itu, Teja juga pernah bekerja menjadi manager di salah satu hotel di Pekanbaru.

Karena kinerjanya bagus di hotel itu, Dokter Tabrani merekrutnya dan mengangkatnya menjadi kepala perencana rumah sakit. Saat itu, dokter Tabrani ingin membangun Rumah Sakit Elisabeth di Pekanbaru.

Sebelum bekerja di rumah sakit dan hotel itu, Teja kuliah di Pekanbaru. Teja sendiri SMA dan SMP di komplek PT Caltex.

”Saya sekolah di Caltex sejak Kelas II SD hingga SMA tamat dari sana. Namun, suasana di sana itu bukan seperti kita (Melayu). Caltex itu kan milik Amerika. Jadi, sejak kuliah saya mulai mengikuti berbagai seni dan sastra termasuk membangun sanggar,” katanya lagi.

Teja lahir di desa yang terpencil, sekitar 14 Km dari Bengkalis dan sekolah di sana. ”Abang saya pun memindahkan saya saat Kelas II SD ke Komplek Caltex,” katanya memulai ceritanya kepada Dato‘ Rida K Liamsi (RDK). (mas)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN