Sepak Bola Bergairah, Ditunggu Kebijakan Kepala Daerah

       
        Loading...    
   

TANJUNGPINANG – Aktivitas latihan dan sparing partner cabang olahraga sepak bola, sudah mulai bergairah di beberapa daerah wilayah Kepri. Pelaksanaan protokol kesehatan, tak menyeluruh. Saatnya masing-masing kepala daerah menentukan kebijakan.

Belum lama ini, Menpora sudah membuat surat edaran. Isinya, aktivitas kepemudaan dan olahraga diperbolehkan, untuk zona hijau penyebaran Covid-19. PSSI pun telah menerbitkan buku panduan untuk aktivitas kompetisi liga sampai dengan pemusatan latihan bagi SSB dan akademi sepak bola.

Dari dua kebijakan itu, hanya satu item yang menjadi hambatan besar, dan membiki keraguan bagi sejumlah klub untuk memulai latihan rutinnya. Yaitu, protokol kesehatan melaksanaan rapid tes setiap minggu yang dicantumkan dalam buku pedoman PSSI.

Padahal, klub dan SSB maupun akademi atau lembaga pembinaan sepak bola di Kepri, tidak sebonafit seperti yang dibayang PSSI. Bisa dikatakan, tak ada yang sanggup SSB atau klub di Kepri ini untuk melakukan rapid tes setiap minggu kepada pemainnya. Alhasil, keharusan rapid tes itu pun diabaikan.

Kini, sudah banyak klub maupun SSB yang melaksanakan latihan rutin. Bahkan, sejumlah klub sudah melakukan pertandingan persahabatan. Dalam aktivitas sepak bola ini, pemain cukup menggunakan masker saat pergi ke lapangan, dan pulang setelah berolahraga. Selain itu, pemain cuci tangan pakai sabun, cek suhu, serta menjaga jarak ketika menjalankan program latihan. Bagi pemain yang

“Saya rasa, klub sepak bola cukup menjalankan protokol kesehatan yang normatif saja, saat latihan maupun laga uji coba. Tanpa harus melakukan rapid tes setiap minggu. Toh di lapangan, tak begitu banyak orang. Kontak fisik pun tak terlalu sering,” ujar Junaidi, Ketua Allstar Tanjungpinang, kemarin.

“Saat kembali ke rumah, si pemain segera mandi membersihkan diri. Kan cukup steril, untuk menghindari penularan Covid-19,” sambungnya.

Jika dibandingkan saat pergi ke swalayan atau ke pasar, Junaidi berpendapat, lebih berisiko ketimbang latihan atau laga persahabatan sepak bola di lapangan. Kontak fisik antarorang di swalayan atau mal, lebih banyak dibandingkan kontak fisik antarpemain sepak bola di lapangan.

“Saat ini, mungkin banyak klub, SSB atau akademi yang menunggu kebijakan dari pemerintah. Sudah saatnya gubernur, bupati, wali kota selaku kepala daerah menentukan kebijakan untuk aktivitas sepak bola di tengah masyarakat. Toh saat ini, aktivitas bola sudah bergairah. Apalagi di Batam, sudah seperti masa normal,” tutur Junaidi.

“Bukan apa sih, sepak bola ini olahraga rakyat. Banyak yang hobi bola. Kalau kepala daerah ragu, silakan bahas bersama Dispora dan Askab/Askot maupun Asprov,” demikian ditambahkan Junaidi. (Yusfreyendi)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN