Kasus Mafia Tanah Di Tanjungpermai, Ada Nama Oknum Notaris Jadi Pemilik Di Sporadik


BINTAN – Dari fakta persidangan pemeriksaan saksi pada kasus kejahatan pertanahan di Bintan, ada nama oknum notaris tercantum sebagai pemilik tanah hasil kejahatan tersebut. 

Demikian yang terungkap pada kasus Pemalsuan Surat nomor perkara 410/Pid.B/2021/PN Tpg dengan terdakwa Riki Putra dan Candra Gunawan serta nomor perkara 409/Pid.B/2021/PN Tpg dengan terdakwa Hariadi yang dilaksanakan pada Selasa (11/1) kemarin di PN Tanjungpinang.

Pada pemeriksaan saksi, terungkap Notaris Ratu Aminah Gunawan namanya tercantum sebagai pemilik pada Sporadik dengan nomor register Kelurahan Tanjungpermai 01/KTP/2018 tertanggal 09 Januari 2018 dan diregister Kecamatan Seri Kuala Lobam nomor 01/SKL/2018 tertanggal 05 Februari 2018.

Surat sporadik dengan luas +/- 5.081.15 m2 tersebut tertulis sebagai penguasa sebidang tanah tertulis nama Ratu Aminah Gunawan dengan usia 44 tahun, kemudian pekerjaan Notaris dan alamat di Jalan Permaisuri Nomor 03, RT 03 RW 02 Kelurahan Tanjunguban Selatan.

Pada surat sporadik juga tertulis sempadan bernama Cheng Liang di sebelah Utara, kemudian Drs T. Mukhtarudin di sebelah Timur dan rencana jalan di sebelah Selatan dan Barat.

Selain terlihat tandatangan Ratu Aminah Gunawan, surat tersebut juga ditandatangani Lurah Tanjungpermai Syamsudin dan Camat Seri Kuala Lobam Rana Lukman.

Saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eka Putra Kristian Waruwu SH MH mencecar saksi Notaris Ratu Aminah Gunawan soal adanya surat sporadik lain selain  yang dijual Supriati dengan luas 19.375 m2 (atas nama Cheng Liang) apakah ada sporadik lainnya?. Kemudian dijawab Notaris Ratu Aminah Gunawan dengan menjelaskan dua sporadik lainnya yaitu atas nama Cheng Liang +/- 5.802 m2 dan atas nama Cheng Liang  seluas 2.672 m2.

“Apakah ada surat sporadik lainnya lagi?,” tanya JPU.

Kemudian Notaris Ratu Aminah Gunawan menjawab ada sporadik atas namanya yang dibuat oleh terdakwa Candra Gunawan.

“Awalnya Candra yang bilang, kak ada tanah sisa, saya buatkan atas nama kakak ya?,” ucap Ratu Aminah menirukan Candra.

Kemudian Candra sempat meminta Kartu Tanda Penduduk Ratu Aminah. Kemudian Ratu Aminah mengaku tidak mengetahui pembuatan surat tersebut, karena hal itu dilakukan oleh Candra.

Setelah surat selesai, kemudian Candra kembali menawarkan surat tersebut ke Cheng Liang. Namun surat tersebut juga diakui Cheng Liang dan meminta Notaris Ratu dan terdakwa Candra menyerahkan kepadanya, bukan menjual.

“Surat sporadik tersebut belum saya apa-apa kan, beralih ke Cheng Liang juga tanpa jual beli atau uang sepeser pun. Cheng Liang juga meminta kepada saya dengan intimidasi akan melaporkan ke polisi jika surat tidak diserahkan,” jelasnya menjawab JPU dan Majelis Hakim.

Atas penyerahan tanah tersebut, kata Ratu Aminah, Cheng Liang mendapat tanah lebih. Karena sebenarnya Cheng Liang membeli lahan seluas 2,5 hektare dengan harga Rp 180 ribu permeter dan total Rp 4,5 miliar. Nilai tersebut sama dengan nilai yang dibayarkan Cheng Liang ke terdakwa Hariadi. Tetapi dengan adanya penyerahan surat ke empat tadi, maka luasnya berlebih banyak.

“Saya sempat bilang ke Candra, kalau itu tanah Supriati, maka kembalikan saja ke Supriati, bukan Cheng Liang,” terangnya ke majelis hakim.

Sementara itu, Andi, salah seorang kuasa hukum Terdakwa Hariadi terlihat dengan nada tinggi menyikapi jawaban saksi Notaris Ratu Aminah Gunawan. Menurutnya saksi tidak menjawab dengan sebenarnya.

Ia juga mengatakan tidak mungkin saksi tidak tahu atau tidak mengetahui ada sporadik kurang lebih setengah hektare atas namanya.

“Kita punya tanah sebidang kavling saja kita pertanyaan kalau sumbernya tidak jelas, apalagi ini setengah hektare, kan lucu kalau tidak tahu. Ibu ini kan paham hukum dan sebagai notaris, tidak mungkin tidak tahu begitu saja,” tegasnya.

Soal beberapa akta yang notaris buat dengan alasan permintaan terdakwa Hariadi, Andi selaku kuasa hukum juga menegaskan jika sebagai notaris harusnya melakukan tindakan hukum sesuai dengan prosedur dan sesuai syarat dan aturan.

“Klien kami ini hanya tamatan SMP, beliau datang ke notaris karena menganggap notaris paham aturan dan membuatkan dokumen yang benar. Tidak mungkin dia yang mengatur dokumen yang sebenarnya dia tidak memahami betul,” ucapnya lagi. (aan)

       
        Loading...    
   
BAGIKAN